Coffe Badati dan Generasi Damai

“Damai dimulai dari beta!”

Salam ini menggema seisi ruang aula SMK Negeri 1 Ambon Karang Panjang, 24 Januari 2012, pekan lalu.
Pagi itu, Puluhan Ketua Osis dari SMP dan SMA Se-kota Ambon berkumpul dalam satu ruang pertemuan. Didampingi oleh beberapa guru yang juga pembimbing Osis. Mereka bicara soal gerakan damai.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Gerakan Coffe Badati, sebuah gerakan perdamaian yang digawangi oleh anak muda lintas agama. Juga bersama Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Ambon, Koran digital Maluku Online dan Yayasan Parakletos.

Dalam talkshow tentang perdamaian, tampil Rudi Fodid. wartawan senior yang akrab disapa Opa ini memaparkan perlunya gerakan damai yang berkelanjutan.
“gerakan damai bukan hanya sampai di sini. Banyak dimensi yang masih bisa kita gali,” tutur Opa Rudi
Selain Opa Rudi, Shurej Tomaluweng, Mahasiswa semester akhir Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) juga tampil sebagai pembicara dalam talkshow ini.


Tomaluweng memaparkan fungsi jejaring komunikasi lintas iman. Menurutnya penting dicatat rusuh yang berkembang 11 september lalu diakibatkan komunikasi yang salah.
“kita harus berjejaring. Membangun komunikasi antar masyarakat. Ini berguna untuk men-counter isu-isu yang dapat menyebabkan pecahnya konflik,” jelas tomaluweng yang pernah mengikuti studi tentang pluralisme di Amerika ini.

Generasi Damai

Rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan Fokus Group Diskusi. Ketua-ketua OSIS ini dibagi dalam 8 kelompok kecil dan kemudian membahas tentang beberapa topik.
Salah topik menarik yang dibahas saat itu, tentang ide-ide kerja damai yang bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing. mereka diskusi panjang soal ini.
Selesai berdiskusi, beberapa orang perwakilan kelompok yang telah ditunjuk, bergerak ke depan untuk bikin presentasi. Ide-ide menarik itu dituturkan dihadapan hadirin.

Johan Samangun dari SMK 6 Ambon misalnya, presentasi idenya untuk bikin Rumah Tatawa.
“generasi kami hidup dalam trauma masa lampau. Kami dibesarkan dengan cerita-cerita konflik. Sangat jarang kami bicara tentang cerita-cerita lucu dan menarik layaknya anak-anak lain. Rumah Tatawa ini, akan buat semua orang melupakan kisah-kisah konflik,”


agak unik seperti Johan, Jessy Wattimena Dari SMU Kartika Ambon, presentasi tentang Pela Antar sekolah. Dia usul agar setiap sekolah punya ikatan persaudaraan.
“pela antar sekolah bisa mencegah tawuran antar sekolah. ini juga bisa jadi forum pertemuan OSIS se-kota Ambon,” paparnya dengan berapi-api
Banyak ide menarik yang disampaikan oleh calon-calon pemimpin masa depan ini. semuanya bermuara pada perdamaian Maluku yang berkelanjutan.
Kegiatan ini di akhiri dengan nyanyian bersama lagu Maluku Tanah Pusaka oleh hadirin sambil berpegang tangan. Ada yang berurai mata.

Rifky Santiago

Ada Ibuku di Hari Ibu

teruntuk seorang ibu yang tak letih melayani…

Ibu...

Suatu ketika…
Matahari sudah meninggi di ufuk timur. dentang jam tak hentinya beradu dengan sang mentari yang terus meninggi.
aku masih saja terbaring di tempat tidur. tak sadarkan diri, walau sebenarnya mata telah lelah dipejamkan.

“ini jam berapa? masih mau tidur lagi,” bentak seseorang di balik daun pintu.
ia menyerbu masuk dalam kamar. meloloskan selimut yang sejak malam menutupi seluruh tubuhku.

aku sontak terbangun. aku kenal betul suara itu. suara wanita paruh baya yang sejak 21 tahun ini bersamaku. suara wanita yang selalu meninabobokan aku di saat kecil dan kini membentakku di saat besar.
dia ibuku. Wanita cantik yang pertama kali aku lihat saat membuka mata dan kini satu-satunya wanita tua yang ku punya.

aku tak marah walau agak jengkel dibangunkan “Sepagi” itu. jam 9 waktuku terlelap hebat dan dibuai mimpi.
setiap harinya aku tidur jam 4 dini hari. menulis, membaca hingga mempikir tentang dunia yang lebih baik jadi hobi tiap tengah malam.

ibuku tahu akan hal itu. dia kerap bertanya “untuk apa tidur selarut itu?!”
saya hanya menjawab “menulis mimpi”
ia kemudian diam ketika kujawab seperti itu. entah paham atau jengkel karena jawabanku yang enteng.

yang aku tahu sejak mendengar jawaban seperti itu ia tak pernah lagi membangunkanku di pagi hari. ia membiarkanku tertidur pulas hingga kini – hanya kadang kalau ada perlunya.
malah, kini ia menyediakan teh panas dan sedikit cemilan untukku. walau ia tahu teh panas itu akan dingin dan jadi santapan semut ketika aku sudah bangun.

Ibuku yang luar biasa. tak pernah mendikte anak-anaknya akan apa yang dikerjakan. selama itu baik bagi kami.
tak pernah berpetuah ataupun berkata bijak layaknya ibu yang lain.

tapi kami tahu, ia selalu mendoakan kami. dalam nafas dan lakunya di hadapan Tuhan.

Selamat Hari Ibu, Ibuku …

You are the Best, Here.. and After.

Ambon, 22 Desember 2011

Sekolah Laskar Pelangi Di Kaki Gunung Binaya

Akhir November lalu saya bersama tim Ekspedisi Jejak Binaya – sebuah kegiatan yang digawangi oleh sebuah kelompok pecinta Alam Maluku – memulai perjalanan menuju “Atap “ Nusa Ina, Gunung Binaya 3027 mdpl.

Peta Kawasan Taman Nasional Manusela

Kami memulai start dari selatan, tepatnya di desa Moso. Desa tujuan kami selanjutnya adalah Manusela. Kami mencapai Desa manusela, setelah 4 hari perjalanan dari Desa Moso, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku tengah.
Desa Manusela terletak di ketinggian 870 mdpl. Desa ini merupakan desa administratif yang dipimpin oleh seorang raja merangkap kepala desa. Yotam Amanokuahe nama rajanya.

SD YPPK Manusela

Di desa ini hanya punya satu puskesmas dan sebuah sekolah dasar. Sekolah Dasar YPPK namanya. SD YPPK di Manusela ini hanya punya tiga 3 guru. Tapi yang saya jumpai saat itu hanya seorang guru yang juga merangkap sebagai kepala sekolah. Saya lupa nama guru itu. dia begitu sibuknya mengajar dari kelas satu hingga kelas enam. Saking sibuknya hingga dia menghiraukan kami yang hendak menawarkan diri untuk membantunya mengajar.
Sekilas ketika melihat sekolah ini, saya teringat akan SD Muhammadiyah di Belitong, yang kemudian terkenal lewat novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Sekolah ini punya 7 ruangan. Satu ruang kantor dan 6 ruang kelas. Empat ruang kelas belajar di sekolah ini tak layak huni. Atapnya bolong, kayu penyangga utama gedung sudah reot di makan rayap. Sangat rawan roboh. Di tambah jumlah kursi yang tidak seimbang dengan jumlah siswa. Satu kursi bisa dipakai oleh 2 hingga 3 siswa.

Kondisi SD YPPK Manusela

SD YPPK Manusela, punya 64 murid dari enam kelas. 33 orang siswa dan 31 orang siswi. Di kelas 6 hanya ada 5 murid, 4 orang siswa dan 1 orang siswi. Saya sempat berbincang dengan kepala sekolah. Dari beliau saya baru tahu bahwa siswa kelas 6 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir kelulusan tidak akan mengikuti ujian di sekolah ini.
“mereka akan ditampung di sebuah sekolah di desa Moso kecamatan Tehoru hingga ujian selesai. Dari tahun ke tahun memang seperti itu,” tutur kepala sekolah.
Yang membuat hati saya miris, bocah-bocah kecil yang akan mengikuti ujian ini harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki untuk mencapai sekolah tempat ujian mereka nanti. Waktu tempuhnya bisa dua sampai 3 hari perjalanan. menurut cerita bapak Yotam, Raja Besa Manusela, bila malam hari tiba dan mereka belum sampai di kampung, anak-anak ini terpaksa tidur ditengah hutan belantara pulau Seram, baik di rumah-rumah kebun (sangat sedikit), atau di camp istirahat terbuat dari tarpal plastik seperti di hutan Sekiwailala dan Waelohilohi. Terpal yang didirikan seadanya itu sudah dalam kondisi rusak.

Tak Kalah Miris

Sebenarnya ada banyak sekali sekolah di kawasan Taman Nasional Manusela (tepatnya daerah jalur pendakian Gunung Binaya) yang sama mirisnya dengan sekolah YPPK di Manusela.
Sebut saja SD 15 Maraina yang hanya punya satu guru dan merangkap kepala sekolah. Desa Maraina sendiri hanya berjarak 10 km dari Utara Desa Manusela.

SD 15 Maraina

SD 15 Maraina punya 6 ruang kelas dengan 83 murid. 45 org siswa dan 38 orang siswi. Bayangkan saja betapa repotnya seorang guru yang menangani semua kelas. Kami melihat ibu guru ini begitu gesitnya berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Jika ia sudah masuk ke satu kelas, ia hanya akan memberi tugas dan kemudian pindah ke kelas yang lain. Jika tugas yang ia berikan sudah selesai dikerjakan oleh siswa, ia akan mengizinkan mereka bermain di luar kelas.
“saya lakukan ini begitu setiap hari, “ ungkap wanita paruh baya ini.
Kami sempat membantu mengajar beberapa kelas. Saya kebagian kelas Satu. saat saya masuk ruangan, kelas ini begitu hening. Hanya ada 10 siswa yang hadir pada saat itu. padahal di papan absen kelas tertera kelas ini memiliki 26 siswa. Saya sempat bertanya, kemana siswa-siswi yang tidak hadir ini. Dengan serentak mereka menjawab, “ SAKIIIIITT…!”
Entah benar atau tidak, saya hanya mengangguk. Tak ada pelajaran spesifik yang saya ajarkan saat itu. saya hanya melontarkan beberapa pertanyaan dan kemudian menanyakan cita-cita mereka. Banyak jawaban yang saya terima. Ada yang ingin jadi pilot, tentara, bahkan ada seorang gadis kecil yang tersipu malu dan dengan suara pelan menjawab “ beta ingin jadi presiden”.
Saya tak bisa lama menahan mereka dalam kelas, karena bel istirahat baru saja berbunyi. Ini pertanda bahwa mereka harus keluar kelas. Saya sempat mengajak mereka foto bersama.

Foto bersama siswi SD 15 Maraina

Selain SD 15 Maraina, ada juga SD YPPK Kanikeh yang tak kalah miris. Sekolah yang terletak di Desa Kanikeh, yang juga merupakan Desa yang paling dekat dengan Gunung Binaya dan juga masuk dalam center kawasan Taman Nasional Manusela.
Saat kami tiba di Desa ini, saya menyempatkan diri mengunjungi SD YPPK ini. Saya mengamatinya luar dan dalam kelas. Kelas ini nampak amburadul dan sepertinya lama tak dipakai. Saya sempat bertanya pada bapak Sondri Lilihata, Kepala Saniri Desa Kanikeh tentang sekolah ini. darinya saya baru tahu kalo sekolah ini sudah libur 3 bulan lebih.
“siswa akan datang ke sekolah jika gurunya sudah datang dari Wahai,” kata Sondri.
Desa Wahai sendiri merupakan ibu kota kecamatan Seram Utara. Saya tidak tahu jarak pastinya, tapi yang saya tahu, untuk menuju ke Wahai dibutuhkan perjalanan 3 sampe empat hari jalan kaki.
Saya tinggalkan sekolah ini dengan sejuta pertanyaan. Karena hari sudah gelap dan saya harus kembali ke rumah tempat saya menginap nanti.
Paginya saya bangun telat karena semalam begadang. saya terbangun karena ajakan seorang teman untuk bantu bersih-bersih di SD YPPK Kanikeh.
Saya kaget dan kemudian bertanya, “ sekolah itu mau dibersihkan? Berarti gurunya sudah ada?”
Teman saya hanya mengangguk. Dengan sekejap saya bangkit dan bergegas menuju sekolah itu. jaraknya hanya 10 meter dari rumah yang kami tempati.

view panorama desa kanikeh

Sampe di depan SD saya menemukan beberapa orang anak sedang memegang sapu untuk bersih-bersih. Ternyata ada beberapa orang siswi yang telah lebih dulu berada dalam kelas. Mereka bahu membahu membersihkan kelas yang dipenuhi kotoran anjing. Saya sempat membantu mereka menata kursi. Saya ingin sekali memotret aktivitas mereka, sayangnya batrei kamera saya sudah drop sejak 2 hari lalu.
Saya melihat keinginan besar dalam diriku mereka untuk belajar. saya jadi membandingkan, bagaimana jika situasi ini terjadi di daerah perkotaan.
Justru saat tidak ada guru, setiap siswa akan bersorak kegirangan. Sungguh berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Mereka justru dengan suka cita menyambut guru yang datang walau tak tentu kapan waktunya.
Jika ingat kejadian ini juga, pikiran saya jadi terbawa pada satu scene dalam film laskar pelangi dimana Ikal mengajak teman-temannya, anggota laskar pelangi untuk bersekolah walau tak ada guru. Saat itu ibu muslimah sedang berduka atas kematian pak Arfan, yang membuat dia tidak mau lagi mengajar.
Saya harap guru yang datang itu dapat melihat kesungguhan serta semangat bocah-bocah mungil di kaki gunung binaya ini untuk memperoleh pendidikan.

[End]
Rifky Santiago

PS : beberapa foto belum sempat terpublish akan saya publish kemudian

ASEAN Blogger Conference #part I

    16 November, pekan lalu, Ada sebuah kegiatan menarik yang digelar, ASEAN Community Blogger di Bali. Kegiatan ini bahas deklarasi blogger ASEAN dan konferensi pertama blogger se-Asia Tenggara. Topik yang dibahas dalam konferensi ini bervariasi, tapi semuanya bermuara pada satu isu : Deklarasi ASEAN Blogger.

    Kegiatan yang bertempat di Museum Pasifika, Nusa Dua Bali ini berada satu kompleks dalam BTDC (Bali Tourism Development Center) yang juga merupakan pusat kegiatan KTT ASEAN ke-19 (ASEAN Summit 19th). ASEAN Blogger Conference – nama resmi pertemuan ini – seyogyanya digelar selama 3 hari (16-18). Tapi karena alasan yang tak diketahui, kegiatan ini dipadatkan jadi 2 hari aktif.
    Setidaknya 200 blogger dari 10 negara anggota ASEAN berkumpul di kegiatan ini. Seratusan berasal dari blogger Indonesia, dan sisanya berasal dari negara-negara anggota ASEAN, seperti, Kamboja, Malaysia, Filiphina, Brunei, Vietnam dan Thailand.


    Menurut, Imam Brotoseno Selaku Presiden ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia, tujuan digelarnya kegiatan ini, sebagai partisipasi dari Blogger-Blogger se-ASEAN untuk turut menyambut masyarakat ASEAN 2015.
    “Banyak masyakarat awan yang belum mengetahui tentang Masyarakat ASEAN 2015 nanti. Di mana nantinya, anggota-anggota ASEAN akan memliki kesepahaman dalam aturan dan norma hukum. setidaknya ada 3 peran penting dalam masyarakat ASEAN 2015. selain politik dan ekonomi, blogger ASEAN diharapkan dapat berperan dalam sosial budaya,” ungkapnya.
    Peran blogger ASEAN ini, menurut Brotoseno diharapkan dapat diikuti oleh chapter-chapter komunitas blogger lain, seperti Myanmar, Thailand dan Filipina.
    Menkominfo, Tiffatul Sembiring dalam pembukaan kegiatan ASEAN Blogger Conference, menyatakan, Indonesia yang juga merupakan pengguna terbesar dari Teknologi Komunikasi Informasi, mempunyai peran dan kepentingan dalam hal ini.
    “itulah mengapa, kami, Indonesia, termasuk atau turut berpatisipasi dalam pertemuan telekomunikasi, baik bertaraf nasional maupun Internasional,” jelas sembiring dalam pidatonya yang dibawakan dalam bahasa inggris.
    Tifatul juga menjelaskan kondisi sosial media yang terjadi Indonesia. Menurutnya, dalam konteks lokal, pemerintah bersama organisasi kemasyarakatan lainnya menjalin kerjasama untuk meningkatkan partisipasi publik dan dialog yang membangun melalui blog, twitter, facebook dan sosial media lainnya
    “Saya beruntung merupakan salah satu dari pengguna aktif twitter, dimana saya mendapatkan banyak manfaat dari penyampaian ide saya, termasuk mendapatkan kritik dan saran dari follower saya di twitter”, ungkapnya.

    Deklarasi
    Konferensi ini bahas banyak kepentingan negara anggota ASEAN. Tiap-tiap perwakilan negara bikin presentasi dihadapan peserta konferensi. Irwan Abdul Rahman dari Malaysia presentasi tentang kembang kempisnya situasi Informasi Teknologi di Malaysia. Wason dari Filipina muncul dengan slide yang menggebrak. Di antara gempuran sosial media Facebook di seluruh belahan dunia, nampaknya hanya Cina yang saya tahu punya aturan proteksi untuk cybermedia mereka. Facebook tak dikenal di Cina. Dari presentasi Wason saya baru tahu, kalau Thailand juga tidak begitu familiar dengan Facebook. ZINC merupakan sosial media yang banyak digunakan di Thailand. Ada juga Tonyo Crush dari Filipina, bikin rekomendasi kepada ASEAN Blogger Conference agar poin deklarasi nanti meminta ASEAN agar menghilangkan Pass Border antar negara. Hal ini mirip negara-negara di Eropa yang sudah tidak lagi menerapka visa antar negara.
    Presentasi tiap negara di akhiri oleh presentasi oleh Cyra, blogger Filipina. Cyra bikin slide yang mengocok perut. Dalam slide yang ditampilkan, seorang polisi Filipina bertarung melawan seorang pedagang bak duel dalam film STAR WARS. Lengkap dengan pedang lasernya.
    Belakangan saya baru tahu. Video slide yang diputa itu ternyata lagi booming di Thailand. Rating tontonannya hampir mirip dengan Norman Kamaru di Youtube.
    Sesi presentasi kegiatan ini berlangsung 2 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan jeda istirahat untuk makan siang. Makan siang selesai. Peserta kemudian dikumpulkan dan dibagi menjadi 3 kelompok. Tiga group ini berdiskusi berdasarkan plot yang sudah ditetapkan panitia. Saya kebagian group C. Kami bahas point deklarasi terutama mengenai kerjasama negara-negara ASEAN dalam penanganan kebebasan berekspresi.
    Duduk di samping saya seorang blogger Kamboja asal India. Dia banyak mengeluh. Dia sempat menanyakan nama Haziran Pohan, penasehat ASEAN Blogger Community Chapter Indonesia.
    Dia banyak melontarkan pertanyaan kepada Ketua group. Dia menyoal tujuan dibikin ASEAN Blogger Community. Dia mempertanyakan soal representasi tiap negara. Dia bicara dalam bahasa inggris dengan dengan dialek India.
    “ are we reprecentative of ASEAN Blogger? I wonder of it,” katanya.
    Diskusi kami berlangsung alot. Dari 1 jam waktu efektif diskusi, kami lebihkan hingga 2 jam. Group A dan B juga tak kalah seru.
    Semua group selesai diskusi. Bahan rangkuman diskusi group dikumpulkan panitia. Kami berkumpul dalam satu aula besar. Di situ setiap ketua diberi 30 menit sesi presentasi hasil diskusi group. Setelahnya, kami kemudian melontarkan pertanyaan atas hasil-hasil itu.
    Hasil-hasil presentasi itu rupanya merupakan embrio dari Deklarasi ASEAN Blogger Community yang nantinya akan dibacakan bersama pada malam Gala Dinner bersama Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa beserta Duta Besar negara-negara ASEAN.
    Deklarasi itu berisi tujuh point tidak termasuk mukaddimah. Berikut poin deklarasi itu :
    1. We, the ASEAN bloggers, gathered in Bali, on 16th November 2011, aligned with the 19th ASEAN Summit, acknowledge the role and contributions of social media for the establishment of ASEAN Community 2015.
    2. We, the ASEAN bloggers, aspire to seek the freedom of expressions among us as enshrined in Universal Declaration of Human Rights.
    3. We, the ASEAN bloggers, in the spirit of partnership and solidarity among the family of people from ASEAN countries, independent of political influence, are determined to use social media in the development of ASEAN’s political, economic, and social-cultural potentials with the aim to promote understanding among ASEAN people.
    4. We, the ASEAN bloggers, are determined to develop cooperation in all fields under ASEAN’s One Vision, One Identity, and One Community.
    5. We, the ASEAN bloggers, are committed to ethical and positive demeanor, respectful of the rights of authors attached to articles, photos, and videos, and other creative products.
    6. We, the ASEAN bloggers commit to:
    a. Declare the 16th November as the ASEAN Bloggers’ Day.
    b. Develop communication platforms, both at the national and the sub-regional levels, taking into account the interest of people participation in the rural areas of ASEAN countries.
    c. Organize future activities to encourage closer contact among bloggers.
    d. Mandate the Indonesian ASEAN Blogger Community President to coordinate and communicate to all their counterparts from ASEAN countries regarding development and progress achieved in accordance with the Declaration.
    7. We, the ASEAN bloggers, encourage all bloggers to join our efforts in making this Declaration a reality.

    Declared in Bali, 16th November 2011.

    Foto Bersama Pada Malam Gala Dinner

    TO BE CONTINUED . . .

In your Mirror

    Dunia adalah cermin retak tanpa pantulan menurutmu.
    Kau berdiri di antara dua sisi kelamnya
    Tak nampak namun tak sulit dirasa
    Tak senyap namun tak sulit diterka

    Jurang adalah tempat paling eksotis menurutmu
    Kau berdiri di antara dua sisi kelamnya
    Melompat jatuh namun tak sudi
    Terbang melayang namun tak mampu

    Dewa adalah makhluk paling heroik menurutmu
    Kau berdiri di antara dua sisi kelamnya
    Jadi manusia namun tak munafik
    Jadi setan namun tak menggoda

    Jadilah aku pengagum setiamu
    Berdiri di antara sifat dan lakumu
    Jadi kekasih namun tak cinta
    Jadi suami namun tak menggauli

    Karena aku tak pantas
    Aku hanya pengagum
    Pendambamu diujung beranda
    Yang menantimu hingga kini


Ambon, September 2011

*gambar comot dari kaskus

Mudik, Eksodus dan 11 Tahun Lalu

Apa yang terbesit dalam pikiran anda jika pada lebaran ini anda tidak akan mudik?

bersusah payah, berjibaku di antara ratusan orang untuk mudik

Jawaban tiap orang pasti beda-beda. Sebagian orang akan mengatakan “ ah, biasa saja. setiap tahun saya pulang kampung”, sebagian yang lain juga akan berkata “ mudik sudah jadi ritual tahunan, memang tak ada yang menarik, tetapi lebaran di kampung halaman selalu punya daya tarik tersendiri”.
Jawaban saya, hampir sama dengan pernyataan yang kedua. Saya pikir mudik memang sudah jadi ritual tahunan bagi siapa saja yang hijrah ke kota besar atau kota selain tempat asalnya. Tapi, setiap even mudik, selalu punya kisah tersendiri. Entah itu kisah perjalanannya, ataupun kisah perayaan Idul Fitri di kampung halaman. Lebaran di kampung halaman selalu jadi magnet yang sangat sulit dijelaskan dengan angka-angka atau dengan logika apapun – selain pendapat atau perasaan si pemudik itu sendiri.
Belum lagi membludaknya animo masyarakat setiap tahun untuk mudik. Seperti yang banyak kita saksikan di media cetak maupun elektronik, skema jumlah pemudik tiap tahunannya tak pernah menurun bahkan meningkat. Hal ini tentunya merepotkan orang-orang yang berada pada lingkaran pengelola moda transportasi, baik laut, darat dan udara.
Dalam hal ini saya menilai, mungkin, pemerintah yang paling kerepotan. Hampir tiap tahun pemerintah harus menghadapi masalah klasik : mudik. Tapi dengan penanganan yang berbeda. Tahun ini saja, entah berapa ratus milyar yang telah dianggarkan pemerintah untuk membangun moda transportasi darat, baik pengadaan, perawatan hingga perbaikan angkutan layak guna bagi masyarakat.

Mudik dengan Kereta Api masih jadi Pilihan Utama masyarakat


Kereta api, tampaknya masih menjadi ‘tren’ masalah pokok moda transportasi darat di pulau jawa – disusul oleh kendaraan roda dua. Tiap kali saya duduk menonton pesawat televisi, berbagai Televisi swasta di Indonesia secara real time menayangkan situasi terkini pada gerbong-gerbong kereta api dan titik-titik rawan bagi pengendara kendaraan bermotor. Tiket kereta api pada stasiun-stasiun “favorit” pemudik, bahkan ludes pada H -7 menjelang bulan puasa. Ini tentu luar biasa.

mudik bermotor


Selain kereta api, moda transportasi darat yang sedang “naik daun” saat ini adalah sepeda motor. Di perkiraan tahun ini, 2 juta lebih pengguna kendaraan bermotor akan mudik dengan melalui jalur-jalur utama. 90% berada di jalur lintas utama Pulau jawa. Kita tentu tak kaget jika harus mudik dengan kendaraan bermotor, tapi bisa dibayangkan betapa riuhnya jalan raya nanti, jika 2 juta kendaraan bermotor – belum terhitung mobil dan jenis kendaraan lainnya – berjubel dalam bau pesing knalpot dan bau asam keringat pengendara karena terjebak macet? Untunglah saya bukan salah satu pengguna moda transportasi ini.
Apa yang membuat masyarakat begitu antusias untuk mudik?
Jika anda bukan perantau, atau orang yang tak punya sanak keluarga di luar daerah. Berhentilah untuk memikirkannya, sebab saya yakin sekali anda tak akan bisa menemukan alasannya.

11 tahun Tanpa mudik

Sub judul ini tentu bukan bahasan umum seperti di atas. Ini hanya penggalan kisah personal yang ingin saya tuangkan sebagai pelengkap.
Kebanyakan orang mungkin sudah puluhan kali merasakan sensasi mudik. Tiap tahun tanpa alpa melakukan ritual ini. Tapi ini tak berlaku bagi saya.
Sebelas tahun yang lalu, saat tragedi Kemanusiaan yang meluluh-lantakan tanah kelahiran saya, mengharuskan kami – saya beserta keluarga – “mengungsi” ke daerah asal ayah saya. Bau-Bau nama kotanya. Tragedi kemanusian, membuat sejengkal tempat di Maluku tak aman untuk di huni. Bedil, asap mesiu, amis darah, dentuman bom sudah bukan barang baru di Maluku saat tragedi itu terjadi di akhir tahun 90. Tragedi tak hanya merenggut puluhan ribu korban jiwa, tetapi juga telah membuat eksodus besar-besaran warga Maluku ke berbagai daerah. Menurut data majalah Pantau edisi juli 2002, terdapat sekitar 174 ribu pengungsi asal Maluku yang melakukan eksodus ke Pulau Buton secara bergelombang sejak tahun 1999. Jumlah itu belum termasuk pengungsi asal Timor-Timur dan Sulawesi Tengah.
Bagi mereka yang bukan suku bangsa asli Maluku, eksodus adalah pilihan paling mutakhir saat itu, jika mau selamat. Suku bugis, suku buton, suku jawa, Sumatra, Kalimantan hingga flores merupakan bagian dari orang-orang yang melakukan eksodus.

Riuh Penumpang Bukit Siguntang

Saya kembali teringat, Di akhir bulan Juli tahun 2000, KM Bukit Siguntang merapat perlahan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. ribuan penumpang menyemut sejak pagi di pelabuhan itu. tak kenal usia, ibu-ibu, anak-anak, hingga orang tua yang sudah renta menunggu dengan cemas kedatangan kapal.
KM bukit siguntang akhirnya merapat di sore hari. Tak berlangsung lama setelah tangga kapal dirapatkan, ratusan orang berjibaku menaiki tangga. Saya ada di antara ratusan orang itu. Kami berdesak-desakan untuk menjadi yang pertama menaiki kapal. Tapi tangga yang disediakan saat itu hanya tiga. Dua tangga utama dan satu tangga alternatif. Tiga tangga rupanya tak cukup menampung ribuan penumpang dalam waktu singkat. Di kejauhan saya lihat, beberapa orang dengan nekatnya menggantungkan hidup mereka pada seutas tali yang diulur oleh seseorang yang telah berada di kapal. Tepatnya di dek 7. Saya perhatikan dengan seksama gaya orang itu bergelantungan. Mulanya, ia menaikan barang bawaannya lewat tali itu. setelah barang naik, ia melilitkan tali ke tubuhnya. Dengan satu hentakan tubuhnya terangkat. Mata saya kembali meneropong. Astaga! Begitu kagetnya saya setelah sadar orang yang bergelantungan tadi adalah seorang wanita! Nyalinya bukan kepalang. Namun kenyataannya, bukan hanya si wanita tadi saja yang menggunakan cara ekstrem itu. Berjarak beberapa meter dari tempat si wanita, “gaya” serupa juga dipraktekkan sebagian orang. Bahkan di antaranya ada seorang bayi yang keranjangnya diikat pada seutas tali dan tarik oleh seorang laki-laki bertubuh kekar dari dek 7. Orang-orang seperti kesetanan menaiki kapal hingga mengabaikan standar keselamatan. Sungguh terlalu!
Tapi apa boleh buat, kapal itu, bagi sebagian orang dipercaya merupakan “kapal putih” – merujuk pada istilah orang ambon – terakhir yang akan singgah di Maluku. Delapan tahun berselang, dalam suatu kesempatan saat berbincang tentang eksodus ini dengan seorang kolega, saya baru menyadari alasannya. Dugaan saya, hal mungkin dikarenakan isu yang beredar beberapa minggu sebelumnya bahwa ambon akan di bakar habis oleh sebagian pihak komunitas yang bertikai dan kapal-kapal dari luar, tidak akan diizinkan berlabuh di Ambon. Sialnya, sebagian masyarakat – termasuk saya – termakan oleh isu kerdil ini. Bahkan, Ayah saya, seminggu sebelum keberangkatan telah mempersiapkan barang-barang keperluan kami untuk di bawa serta pada “mudik” itu.

Setelah beberapa jam akhirnya saya berhasil menaiki kapal, walau dengan dibopong oleh seorang kerabat. Di dalam kapal, tak kalah riuhnya dengan di luar. Ribuan rupa manusia sibuk menggotong barang bawaan, dari mulai geladak kapal, lorong-lorong, anak tangga hingga dek luar kapal. Semua sibuk. Tak mau kalah, pedangan asongan juga sibuk wara-wiri menawarkan dagangan. Beberapa di antaranya sampai menjurus ke pemaksaan. Hal ini sempat membuat emosi seorang kerabat saya. Ia mengacungkan kepalan tinju ke hadapan seorang pedagang asongan agar segera beranjak dari situ, jika tak ingin bogem mentah mendarat dengan indah di pipinya.
Ini bukan saja kali pertama saya mudik tapi juga merupakan kali pertama saya naik kapal laut. Memorinya begitu kuat terekam di dalam otak hingga saat ini.

    ***

Sebelas tahun berlalu, saya akhirnya bisa bernafas lega, setelah “divonis” oleh ayah untuk mudik tahun ini. Ada berbagai macam alasan hingga beberapa tahun sebelumnya ia tak mengizinkan saya untuk mudik. Beberapa di antaranya sulit untuk saya jabarkan karena sangat privacy.
Mudik ke kota seluas 6.463 kilometer persegi itu akan menyenangkan sekali. Selain senang bisa bertemu sanak keluarga di sana, tahun ini juga ada beberapa even penting yang tengah di gelar di sana. Yang paling santer terdengar adalah Sail Wakatobi. Even pariwisata terbesar tahun ini, yang disponsori Kementrian Budaya dan Pariwisata bekerja sama dengan Stakeholder setempat menjadikan even ini layak dihadiri. Saya tak menghitung pasti berapa jumlah kapal domestik maupun mancanegara yang ikut berpartisipasi pada even ini. Tapi yang jelas puluhan di antaranya, beberapa minggu yang lalu dikabarkan tengah melalui Maluku sebagai jalur pelayarannya.

Peta wakatobi

Sebuah Resort di Wakatobi yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan

Tak hanya even Sail Wakatobi, even besar yang menanti saya selanjutnya adalah kumpul sanak keluarga Wakatobi. Ribuan orang yang senasib dengan saya – jarang mudik – asal Wance, Kaledupa, Tomia dan Binongko dari berbagai belahan dunia, seperti Jakarta, Korea, Arab, Amerika, hingga Turki akan berpartisipasi menyukseskan acara ini.
Dengan dibekali tiket gratis oleh salah seorang teman yang baik hati, saya berharap sekali bisa mudik tahun ini. Riuhnya tawa sanak saudara sudah terngiang dalam kepala.

END

Entahlah …

    Oh, mimpi…
    Masih adakah kau?
    Masihkah kau sudi mengganggu tidurku yang lelap?
    Masihkah kau bersedia menopang ásaku yang meredup?

a voyages to the dream

Hari ini saya terbangun dari tidur yang lelap dan kembali menghadapi ‘tanah kebohongan’. Kembali beraktifitas seperti ‘mereka’ setelah berminggu-minggu berjibaku untuk mendefenisikan ‘musibah’ dan ‘hidup’. Akhirnya saya menyerah. Saya harus tetap bersepeda, saya harus tetap mengambil pena dan menggoreskan tinta pada lembar kosong. Sebab, itulah hidup. Saya harus terus bermimpi agar tetap hidup.

“Dream make us reach the sky although we have no wings”