Mudik, Eksodus dan 11 Tahun Lalu

Apa yang terbesit dalam pikiran anda jika pada lebaran ini anda tidak akan mudik?

bersusah payah, berjibaku di antara ratusan orang untuk mudik

Jawaban tiap orang pasti beda-beda. Sebagian orang akan mengatakan “ ah, biasa saja. setiap tahun saya pulang kampung”, sebagian yang lain juga akan berkata “ mudik sudah jadi ritual tahunan, memang tak ada yang menarik, tetapi lebaran di kampung halaman selalu punya daya tarik tersendiri”.
Jawaban saya, hampir sama dengan pernyataan yang kedua. Saya pikir mudik memang sudah jadi ritual tahunan bagi siapa saja yang hijrah ke kota besar atau kota selain tempat asalnya. Tapi, setiap even mudik, selalu punya kisah tersendiri. Entah itu kisah perjalanannya, ataupun kisah perayaan Idul Fitri di kampung halaman. Lebaran di kampung halaman selalu jadi magnet yang sangat sulit dijelaskan dengan angka-angka atau dengan logika apapun – selain pendapat atau perasaan si pemudik itu sendiri.
Belum lagi membludaknya animo masyarakat setiap tahun untuk mudik. Seperti yang banyak kita saksikan di media cetak maupun elektronik, skema jumlah pemudik tiap tahunannya tak pernah menurun bahkan meningkat. Hal ini tentunya merepotkan orang-orang yang berada pada lingkaran pengelola moda transportasi, baik laut, darat dan udara.
Dalam hal ini saya menilai, mungkin, pemerintah yang paling kerepotan. Hampir tiap tahun pemerintah harus menghadapi masalah klasik : mudik. Tapi dengan penanganan yang berbeda. Tahun ini saja, entah berapa ratus milyar yang telah dianggarkan pemerintah untuk membangun moda transportasi darat, baik pengadaan, perawatan hingga perbaikan angkutan layak guna bagi masyarakat.

Mudik dengan Kereta Api masih jadi Pilihan Utama masyarakat


Kereta api, tampaknya masih menjadi ‘tren’ masalah pokok moda transportasi darat di pulau jawa – disusul oleh kendaraan roda dua. Tiap kali saya duduk menonton pesawat televisi, berbagai Televisi swasta di Indonesia secara real time menayangkan situasi terkini pada gerbong-gerbong kereta api dan titik-titik rawan bagi pengendara kendaraan bermotor. Tiket kereta api pada stasiun-stasiun “favorit” pemudik, bahkan ludes pada H -7 menjelang bulan puasa. Ini tentu luar biasa.

mudik bermotor


Selain kereta api, moda transportasi darat yang sedang “naik daun” saat ini adalah sepeda motor. Di perkiraan tahun ini, 2 juta lebih pengguna kendaraan bermotor akan mudik dengan melalui jalur-jalur utama. 90% berada di jalur lintas utama Pulau jawa. Kita tentu tak kaget jika harus mudik dengan kendaraan bermotor, tapi bisa dibayangkan betapa riuhnya jalan raya nanti, jika 2 juta kendaraan bermotor – belum terhitung mobil dan jenis kendaraan lainnya – berjubel dalam bau pesing knalpot dan bau asam keringat pengendara karena terjebak macet? Untunglah saya bukan salah satu pengguna moda transportasi ini.
Apa yang membuat masyarakat begitu antusias untuk mudik?
Jika anda bukan perantau, atau orang yang tak punya sanak keluarga di luar daerah. Berhentilah untuk memikirkannya, sebab saya yakin sekali anda tak akan bisa menemukan alasannya.

11 tahun Tanpa mudik

Sub judul ini tentu bukan bahasan umum seperti di atas. Ini hanya penggalan kisah personal yang ingin saya tuangkan sebagai pelengkap.
Kebanyakan orang mungkin sudah puluhan kali merasakan sensasi mudik. Tiap tahun tanpa alpa melakukan ritual ini. Tapi ini tak berlaku bagi saya.
Sebelas tahun yang lalu, saat tragedi Kemanusiaan yang meluluh-lantakan tanah kelahiran saya, mengharuskan kami – saya beserta keluarga – “mengungsi” ke daerah asal ayah saya. Bau-Bau nama kotanya. Tragedi kemanusian, membuat sejengkal tempat di Maluku tak aman untuk di huni. Bedil, asap mesiu, amis darah, dentuman bom sudah bukan barang baru di Maluku saat tragedi itu terjadi di akhir tahun 90. Tragedi tak hanya merenggut puluhan ribu korban jiwa, tetapi juga telah membuat eksodus besar-besaran warga Maluku ke berbagai daerah. Menurut data majalah Pantau edisi juli 2002, terdapat sekitar 174 ribu pengungsi asal Maluku yang melakukan eksodus ke Pulau Buton secara bergelombang sejak tahun 1999. Jumlah itu belum termasuk pengungsi asal Timor-Timur dan Sulawesi Tengah.
Bagi mereka yang bukan suku bangsa asli Maluku, eksodus adalah pilihan paling mutakhir saat itu, jika mau selamat. Suku bugis, suku buton, suku jawa, Sumatra, Kalimantan hingga flores merupakan bagian dari orang-orang yang melakukan eksodus.

Riuh Penumpang Bukit Siguntang

Saya kembali teringat, Di akhir bulan Juli tahun 2000, KM Bukit Siguntang merapat perlahan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. ribuan penumpang menyemut sejak pagi di pelabuhan itu. tak kenal usia, ibu-ibu, anak-anak, hingga orang tua yang sudah renta menunggu dengan cemas kedatangan kapal.
KM bukit siguntang akhirnya merapat di sore hari. Tak berlangsung lama setelah tangga kapal dirapatkan, ratusan orang berjibaku menaiki tangga. Saya ada di antara ratusan orang itu. Kami berdesak-desakan untuk menjadi yang pertama menaiki kapal. Tapi tangga yang disediakan saat itu hanya tiga. Dua tangga utama dan satu tangga alternatif. Tiga tangga rupanya tak cukup menampung ribuan penumpang dalam waktu singkat. Di kejauhan saya lihat, beberapa orang dengan nekatnya menggantungkan hidup mereka pada seutas tali yang diulur oleh seseorang yang telah berada di kapal. Tepatnya di dek 7. Saya perhatikan dengan seksama gaya orang itu bergelantungan. Mulanya, ia menaikan barang bawaannya lewat tali itu. setelah barang naik, ia melilitkan tali ke tubuhnya. Dengan satu hentakan tubuhnya terangkat. Mata saya kembali meneropong. Astaga! Begitu kagetnya saya setelah sadar orang yang bergelantungan tadi adalah seorang wanita! Nyalinya bukan kepalang. Namun kenyataannya, bukan hanya si wanita tadi saja yang menggunakan cara ekstrem itu. Berjarak beberapa meter dari tempat si wanita, “gaya” serupa juga dipraktekkan sebagian orang. Bahkan di antaranya ada seorang bayi yang keranjangnya diikat pada seutas tali dan tarik oleh seorang laki-laki bertubuh kekar dari dek 7. Orang-orang seperti kesetanan menaiki kapal hingga mengabaikan standar keselamatan. Sungguh terlalu!
Tapi apa boleh buat, kapal itu, bagi sebagian orang dipercaya merupakan “kapal putih” – merujuk pada istilah orang ambon – terakhir yang akan singgah di Maluku. Delapan tahun berselang, dalam suatu kesempatan saat berbincang tentang eksodus ini dengan seorang kolega, saya baru menyadari alasannya. Dugaan saya, hal mungkin dikarenakan isu yang beredar beberapa minggu sebelumnya bahwa ambon akan di bakar habis oleh sebagian pihak komunitas yang bertikai dan kapal-kapal dari luar, tidak akan diizinkan berlabuh di Ambon. Sialnya, sebagian masyarakat – termasuk saya – termakan oleh isu kerdil ini. Bahkan, Ayah saya, seminggu sebelum keberangkatan telah mempersiapkan barang-barang keperluan kami untuk di bawa serta pada “mudik” itu.

Setelah beberapa jam akhirnya saya berhasil menaiki kapal, walau dengan dibopong oleh seorang kerabat. Di dalam kapal, tak kalah riuhnya dengan di luar. Ribuan rupa manusia sibuk menggotong barang bawaan, dari mulai geladak kapal, lorong-lorong, anak tangga hingga dek luar kapal. Semua sibuk. Tak mau kalah, pedangan asongan juga sibuk wara-wiri menawarkan dagangan. Beberapa di antaranya sampai menjurus ke pemaksaan. Hal ini sempat membuat emosi seorang kerabat saya. Ia mengacungkan kepalan tinju ke hadapan seorang pedagang asongan agar segera beranjak dari situ, jika tak ingin bogem mentah mendarat dengan indah di pipinya.
Ini bukan saja kali pertama saya mudik tapi juga merupakan kali pertama saya naik kapal laut. Memorinya begitu kuat terekam di dalam otak hingga saat ini.

    ***

Sebelas tahun berlalu, saya akhirnya bisa bernafas lega, setelah “divonis” oleh ayah untuk mudik tahun ini. Ada berbagai macam alasan hingga beberapa tahun sebelumnya ia tak mengizinkan saya untuk mudik. Beberapa di antaranya sulit untuk saya jabarkan karena sangat privacy.
Mudik ke kota seluas 6.463 kilometer persegi itu akan menyenangkan sekali. Selain senang bisa bertemu sanak keluarga di sana, tahun ini juga ada beberapa even penting yang tengah di gelar di sana. Yang paling santer terdengar adalah Sail Wakatobi. Even pariwisata terbesar tahun ini, yang disponsori Kementrian Budaya dan Pariwisata bekerja sama dengan Stakeholder setempat menjadikan even ini layak dihadiri. Saya tak menghitung pasti berapa jumlah kapal domestik maupun mancanegara yang ikut berpartisipasi pada even ini. Tapi yang jelas puluhan di antaranya, beberapa minggu yang lalu dikabarkan tengah melalui Maluku sebagai jalur pelayarannya.

Peta wakatobi

Sebuah Resort di Wakatobi yang menyajikan pemandangan alam menakjubkan

Tak hanya even Sail Wakatobi, even besar yang menanti saya selanjutnya adalah kumpul sanak keluarga Wakatobi. Ribuan orang yang senasib dengan saya – jarang mudik – asal Wance, Kaledupa, Tomia dan Binongko dari berbagai belahan dunia, seperti Jakarta, Korea, Arab, Amerika, hingga Turki akan berpartisipasi menyukseskan acara ini.
Dengan dibekali tiket gratis oleh salah seorang teman yang baik hati, saya berharap sekali bisa mudik tahun ini. Riuhnya tawa sanak saudara sudah terngiang dalam kepala.

END

About these ads

3 gagasan untuk “Mudik, Eksodus dan 11 Tahun Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s