Sekolah Laskar Pelangi Di Kaki Gunung Binaya

Akhir November lalu saya bersama tim Ekspedisi Jejak Binaya – sebuah kegiatan yang digawangi oleh sebuah kelompok pecinta Alam Maluku – memulai perjalanan menuju “Atap “ Nusa Ina, Gunung Binaya 3027 mdpl.

Peta Kawasan Taman Nasional Manusela

Kami memulai start dari selatan, tepatnya di desa Moso. Desa tujuan kami selanjutnya adalah Manusela. Kami mencapai Desa manusela, setelah 4 hari perjalanan dari Desa Moso, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku tengah.
Desa Manusela terletak di ketinggian 870 mdpl. Desa ini merupakan desa administratif yang dipimpin oleh seorang raja merangkap kepala desa. Yotam Amanokuahe nama rajanya.

SD YPPK Manusela

Di desa ini hanya punya satu puskesmas dan sebuah sekolah dasar. Sekolah Dasar YPPK namanya. SD YPPK di Manusela ini hanya punya tiga 3 guru. Tapi yang saya jumpai saat itu hanya seorang guru yang juga merangkap sebagai kepala sekolah. Saya lupa nama guru itu. dia begitu sibuknya mengajar dari kelas satu hingga kelas enam. Saking sibuknya hingga dia menghiraukan kami yang hendak menawarkan diri untuk membantunya mengajar.
Sekilas ketika melihat sekolah ini, saya teringat akan SD Muhammadiyah di Belitong, yang kemudian terkenal lewat novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Sekolah ini punya 7 ruangan. Satu ruang kantor dan 6 ruang kelas. Empat ruang kelas belajar di sekolah ini tak layak huni. Atapnya bolong, kayu penyangga utama gedung sudah reot di makan rayap. Sangat rawan roboh. Di tambah jumlah kursi yang tidak seimbang dengan jumlah siswa. Satu kursi bisa dipakai oleh 2 hingga 3 siswa.

Kondisi SD YPPK Manusela

SD YPPK Manusela, punya 64 murid dari enam kelas. 33 orang siswa dan 31 orang siswi. Di kelas 6 hanya ada 5 murid, 4 orang siswa dan 1 orang siswi. Saya sempat berbincang dengan kepala sekolah. Dari beliau saya baru tahu bahwa siswa kelas 6 yang sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir kelulusan tidak akan mengikuti ujian di sekolah ini.
“mereka akan ditampung di sebuah sekolah di desa Moso kecamatan Tehoru hingga ujian selesai. Dari tahun ke tahun memang seperti itu,” tutur kepala sekolah.
Yang membuat hati saya miris, bocah-bocah kecil yang akan mengikuti ujian ini harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki untuk mencapai sekolah tempat ujian mereka nanti. Waktu tempuhnya bisa dua sampai 3 hari perjalanan. menurut cerita bapak Yotam, Raja Besa Manusela, bila malam hari tiba dan mereka belum sampai di kampung, anak-anak ini terpaksa tidur ditengah hutan belantara pulau Seram, baik di rumah-rumah kebun (sangat sedikit), atau di camp istirahat terbuat dari tarpal plastik seperti di hutan Sekiwailala dan Waelohilohi. Terpal yang didirikan seadanya itu sudah dalam kondisi rusak.

Tak Kalah Miris

Sebenarnya ada banyak sekali sekolah di kawasan Taman Nasional Manusela (tepatnya daerah jalur pendakian Gunung Binaya) yang sama mirisnya dengan sekolah YPPK di Manusela.
Sebut saja SD 15 Maraina yang hanya punya satu guru dan merangkap kepala sekolah. Desa Maraina sendiri hanya berjarak 10 km dari Utara Desa Manusela.

SD 15 Maraina

SD 15 Maraina punya 6 ruang kelas dengan 83 murid. 45 org siswa dan 38 orang siswi. Bayangkan saja betapa repotnya seorang guru yang menangani semua kelas. Kami melihat ibu guru ini begitu gesitnya berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Jika ia sudah masuk ke satu kelas, ia hanya akan memberi tugas dan kemudian pindah ke kelas yang lain. Jika tugas yang ia berikan sudah selesai dikerjakan oleh siswa, ia akan mengizinkan mereka bermain di luar kelas.
“saya lakukan ini begitu setiap hari, “ ungkap wanita paruh baya ini.
Kami sempat membantu mengajar beberapa kelas. Saya kebagian kelas Satu. saat saya masuk ruangan, kelas ini begitu hening. Hanya ada 10 siswa yang hadir pada saat itu. padahal di papan absen kelas tertera kelas ini memiliki 26 siswa. Saya sempat bertanya, kemana siswa-siswi yang tidak hadir ini. Dengan serentak mereka menjawab, “ SAKIIIIITT…!”
Entah benar atau tidak, saya hanya mengangguk. Tak ada pelajaran spesifik yang saya ajarkan saat itu. saya hanya melontarkan beberapa pertanyaan dan kemudian menanyakan cita-cita mereka. Banyak jawaban yang saya terima. Ada yang ingin jadi pilot, tentara, bahkan ada seorang gadis kecil yang tersipu malu dan dengan suara pelan menjawab “ beta ingin jadi presiden”.
Saya tak bisa lama menahan mereka dalam kelas, karena bel istirahat baru saja berbunyi. Ini pertanda bahwa mereka harus keluar kelas. Saya sempat mengajak mereka foto bersama.

Foto bersama siswi SD 15 Maraina

Selain SD 15 Maraina, ada juga SD YPPK Kanikeh yang tak kalah miris. Sekolah yang terletak di Desa Kanikeh, yang juga merupakan Desa yang paling dekat dengan Gunung Binaya dan juga masuk dalam center kawasan Taman Nasional Manusela.
Saat kami tiba di Desa ini, saya menyempatkan diri mengunjungi SD YPPK ini. Saya mengamatinya luar dan dalam kelas. Kelas ini nampak amburadul dan sepertinya lama tak dipakai. Saya sempat bertanya pada bapak Sondri Lilihata, Kepala Saniri Desa Kanikeh tentang sekolah ini. darinya saya baru tahu kalo sekolah ini sudah libur 3 bulan lebih.
“siswa akan datang ke sekolah jika gurunya sudah datang dari Wahai,” kata Sondri.
Desa Wahai sendiri merupakan ibu kota kecamatan Seram Utara. Saya tidak tahu jarak pastinya, tapi yang saya tahu, untuk menuju ke Wahai dibutuhkan perjalanan 3 sampe empat hari jalan kaki.
Saya tinggalkan sekolah ini dengan sejuta pertanyaan. Karena hari sudah gelap dan saya harus kembali ke rumah tempat saya menginap nanti.
Paginya saya bangun telat karena semalam begadang. saya terbangun karena ajakan seorang teman untuk bantu bersih-bersih di SD YPPK Kanikeh.
Saya kaget dan kemudian bertanya, “ sekolah itu mau dibersihkan? Berarti gurunya sudah ada?”
Teman saya hanya mengangguk. Dengan sekejap saya bangkit dan bergegas menuju sekolah itu. jaraknya hanya 10 meter dari rumah yang kami tempati.

view panorama desa kanikeh

Sampe di depan SD saya menemukan beberapa orang anak sedang memegang sapu untuk bersih-bersih. Ternyata ada beberapa orang siswi yang telah lebih dulu berada dalam kelas. Mereka bahu membahu membersihkan kelas yang dipenuhi kotoran anjing. Saya sempat membantu mereka menata kursi. Saya ingin sekali memotret aktivitas mereka, sayangnya batrei kamera saya sudah drop sejak 2 hari lalu.
Saya melihat keinginan besar dalam diriku mereka untuk belajar. saya jadi membandingkan, bagaimana jika situasi ini terjadi di daerah perkotaan.
Justru saat tidak ada guru, setiap siswa akan bersorak kegirangan. Sungguh berbeda dengan apa yang mereka lakukan. Mereka justru dengan suka cita menyambut guru yang datang walau tak tentu kapan waktunya.
Jika ingat kejadian ini juga, pikiran saya jadi terbawa pada satu scene dalam film laskar pelangi dimana Ikal mengajak teman-temannya, anggota laskar pelangi untuk bersekolah walau tak ada guru. Saat itu ibu muslimah sedang berduka atas kematian pak Arfan, yang membuat dia tidak mau lagi mengajar.
Saya harap guru yang datang itu dapat melihat kesungguhan serta semangat bocah-bocah mungil di kaki gunung binaya ini untuk memperoleh pendidikan.

[End]
Rifky Santiago

PS : beberapa foto belum sempat terpublish akan saya publish kemudian

7 thoughts on “Sekolah Laskar Pelangi Di Kaki Gunung Binaya

  1. luar biasa kisah ini mengiris hati. ini indonesia yg katany kaya dan di bumi maluku (saya yakin di tempat selain maluku jg ada) ada wajah pendidikan seperti ini. lalu, bisa apa kita? ayo lakukan. akankah tempat tempat ini dilirik oleh para pengambil kebijakan?

  2. Ping-balik: Sekolah Laskar Pelangi Di Kaki Gunung Binaya : Arumbai Blogger

    • terimakasih bunda Nurma. saya sudah mendengar itikad baik dan teman2 di sana.
      saya, seperti juga mereka – anak2 di kaki gunung binaya – senang sekali ada bantuan ini.
      saya dan teman2 dari Arumbai Blogger Maluku akan berusaha mendistribusikannya.
      semoga Allah Swt membalas kebaikan saudara2 semua.

      salam damai,

      RS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s