Hidup Adalah Untuk Melayani

Sosoknya yang Sederhana, Santun dan terkadang kocak membuat anak sulung dari delapan bersaudara ini disenangi siapa saja. Tak hanya yang sebaya, yang muda dan yang tua mengenal Pria  kelahiran Desa Cigadung Kabupaten  Kuningan, Jawa Barat, pada tanggal 20 maret 1959 ini sebagai sosok yang pantas dijadikan panutan.

Dialah, Prof.Dr. H Dedi Djubaedi, M.Ag, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon . Anak tertua dari sembilan bersaudara pasangan almarhum Haerudin dan almarhumah Hartini. Ayahnya  bekerja sebagai pegawai rendahan di Sebuah Rumah Sakit 45 kabupaten Kuningan, Jawa Barat sebagai administrator di Bagian Ronsen, serta ibunya berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar.

Hidup di keluarga yang sangat sederhana dengan sembilan bersaudara, membuat Djubaedi belajar untuk mandiri dan menjadi panutan bagi adik-adiknya. Tak ada harta peninggalan oleh orang tua Guru besar ini, kecuali sebuah Rumah.

“bagi kedua orangtua saya, harta kekayaan tertinggi adalah ilmu. semangat etos orangtua saya yang luar biasa, hingga dapat menyekolahkan sembilan anaknya,” tutur Djubaedi

Dia selalu takjub saat mengenang sosok sang ayah. Sedangkan ibunya, ada hal yang tak bisa dilupakan dan selalu dipelajarinya. Semasa hidupnya hingga wafat , ibunya tak pernah marah.

”saya bangga sekali. saya selalu belajar untuk menahan amarah, karena pengaruh sosok ibu begitu kuat ,” kata Djubaedi, mengenang masa lalunya.

Karena belajar dari sosok kedua orang tuanyalah, sekarang salah seorang adiknya dapat menjadi ilmuwan. Ir. Dudi Iskandar, saat ini mengambil program strata S3 dan bekerja pada salah satu Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi (BPPT), di New Zeland.

“adik saya yang keempat ini, mendapat beasiswa dari Pak Habibie untuk S2 dan S3 selama enam tahun di New Zealand,” katanya.

Rekam Jejak Pendidikan

Dedi Djubaedi menjalani pendidikan dasar di Kuningan, Jawa Barat, yang secara kebetulan diasuh sang ibu. Dia, lalu melanjutkan ke Pesantren Gontor, di Jawa Timur, selama enam tahun. Selama di pesantren, Djubaedi selalu mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi di lingkungan Gontor

“saya pernah menjadi Hakim Bahasa di Gontor, pernah juga menjadi anggota drama dan melakukan pementasan di lingkungan pesantren,” Kenangnya.

Selesai di pesantren, Djubaedi, memilih melanjutkan ke Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Cirebon. Dan sejak semester satu, dia sudah mengajar Bahasa Inggris, pada salah satu SMA di Cirebon. Setelah menyelesaikan sarjana mudanya pada tahun 1981, Dedi Djubaedi, di angkat menjadi kepala Sekolah SMP Syarif Hidayatullah.

“bagi saya hidup itu harus mi’raj. Harus terus meningkat. Dulu Kepala Sekolah SMP, trus Kepala Sekolah SMA, Sekarang jadi Rektor,” Ungkap seraya tertawa kecil.

Tak lama, Dedi di angkat menjadi Kepala Sekolah SMA Sunan Gunung Djati. Pria satu cucu, itu kemudian menyelesaikan sarjananya pada tahun 1983 di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Belum lama menyandang gelar Drs (Doktorandus),  Dedi Djubaedi mengikuti tes sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia berhasil lulus dan mendapatkan SK pengangkatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk menjadi guru pada SMA Cileduk, Jawa Barat, Pada Tahun 1984.

Tapi setelah di angkat menjadi guru, dia merasa tak nyaman hanya menjadi guru, keinginannya untuk menjadi dosen terlalu kuat.  Walhasil, hanya tiga tahun mengabdi  menjadi guru, permintaan mutasinya  ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Cirebon diterima dan diangkat menjadi dosen IAIN Cirebon dengan SK Menteri Agama  pada tahun 1990.

Pada tahun 1992, Dedi memperdalam Bahasa Inggris di lembaga Indonesia Australia language Foundation (IALF) Denpasar, Bali agar bisa melanjutkan studi ke Mchill University di Kanada. Tapi nasib tidak berpihak padanya. Dedi ditolak karena alasan gender.

“sebagai gantinya, saya diberikan beasiswa S2 ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta” imbuhnya.

Patut dicontoh, selama kuliah dari Sarjana Muda hingga menyandang gelar Doktor, dia selalu mendapat beasiswa full.

“saya bingung jika harus membiayai sendiri uang kuliah saya. Terpaksa, jalan satu-satunya adalah belajar keras untuk mendapatkan beasiswa. Dan Alhamdulillah saya berhasil,” katanya, dengan nada merendah.

Selesai mengikuti program doktor pada Almamaternya,  Universitas Islam Negeri (UIN) – dahulu IAIN Syarif Hidayatullah – Jakarta, Dedi terpilih dengan meraih suara signifikan menjadi Pembantu ketua (PK) III Bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Cirebon, pada tahun 1995. Kemudian terpilih lagi menjadi PK IV Bidang Kerja Sama Luar Negeri.

Antara tahun 1999-2003, suami dari Hanifa, putri salah seorang Kiyai besar di Cirebon ini, dilantik menjadi Direktur  Program Pascasarjana STAIN Cirebon.

Tiga tahun memegang jabatan tersebut, dia bertaruh dalam kompetisi memperebutkan kursi Rektor  IAIN Ambon. Dan hasilnya, pada  Oktober 2008, Dedi Djubaedi di lantik sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon karena mengantongi 22 suara, mengungguli rivalnya.

Dari Kanada Hingga ke Saudi Arabiah

Setelah menjadi Direktur pascasarjana STAIN Cirebon, dia mengikuti lagi pelatihan internasional dalam kegiatan Newro Languagestik Programing (NLP) di puncak Bogor, Jawa Barat. Kegiatan Newro semantik ini untuk membentuk kepribadian. Dari itulah, kemampuan Dedi Djubaedi, sebagai ilmuwan dan pemimpin banyak terbantu.

Sebelum menjabat sebagai Rektor IAIN Ambon, Dedy Djubaedi yang dianugarahi gelar Guru Besar pada tahun 2008, itu pernah mengikuti World Community Development Short Course selama tiga bulan lebih di Mchill University  Kanada, tempat yang dulu diimpikannya untuk belajar. Tak hanya itu, Ia juga pernah mengikuti even Internasional Islamic Social Educational Cultural Organization (ISESCO), masing-masing satu kali di semarang, Jakarta dan Malaysia.

Selain itu, Djubaedi juga pernah ke Universitas Leiden di Belanda dalam rangka monitoring dosen-dosen yang sedang studi disana. Jaringannya dengan Leiden membuat ia kerap diundang oleh Universitas ini, untuk mengikuti kegiatan mereka di dalam dan luar negeri. Tanggal 23-26 bulan ini, Djubaedi dijadwalkan akan menghadiri Workshop On Young Leader di Bogor atas undangan Universitas Leiden.

Pengalaman luar negeri yang tak kalah menariknya, ketika menjadi tenaga Badan Pelaksana Ibadah Haji (BPHI) di mekkah, Saudi Arabiah, selama tiga bulan lebih. Dia menceritakan, ketika melayani masyarakat dari sekian banyaknya jemaah  haji yang sakit, ada yang menduga bahwa Dedi Djubaedi adalah seorang dokter gara-gara title Doktor  tertera (DR) yang tertera  di topi dan saku bajunya.Djubaedi terpaksa harus melayani permintaan para jamaah haji ini.

“tentu saya obati. Tapi dengan motivasi dan saran agar lebih banyak mengkonsumsi air putih. Saya pikir dengan dua hal itu ditambah niat sembuh oleh pasien, Insya Allah pasti sembuh” kata Djubaedi

Hasilnya? Banyak pasien yang merasa sembuh atas keluhan-keluhan penyakitnya selama ini.

“saking hebohnya, ada yang berkata, saya hanya mau dilayani oleh dokter Dedi,” tutur Djubaedi menirukan seorang pasien.

Mimpi dan Pengabdian

Diusianya yang berkepala lima, Djubaedi  telah menuai perjuangan dan kerja kerasnya selama ini. Dari seorang anak kampung hingga menjadi Rektor. Pencapainnya yang boleh dibilang sukses ini, tak lantas dianggap sebagai akhir.

“hidup itu harus punya mimpi agar terus berlanjut” katanya.

Bagi Djubaedi, menghadapi tantangan, ujian,  cobaan maupun cita-cita harus siap pula meghadapi kegagalan. ”Filosofi saya adalah berani gagal, ternyata orang yang berani gagal itu mempunyai kelebihan  kekuatan spiritual dari pada orang berani menang. Karena orang yang menang ketika gagal akan kecewa ” ujarnya

Djubaedi masih ingin mengabdi. Dia ingin memajukan institusi yang sekarang dipimpinnya. Banyak rencana jangka panjang yang ingin tunaikan. Salah satunya adalah menaikkan status IAIN Ambon menjadi Universitas.

“Sekarang, saya sedang mempersiapakan sumber daya manusia dulu. Puluhan dosen tengah saya berangkatkan. Saya targetkan 2012, ketika saya tinggalkan, IAIN sudah punya 20 orang Doktor (DR),” katanya.

One response to “Hidup Adalah Untuk Melayani

  1. ok pak saya terinspirasi dan termotivasi dengan bapak. Semoga perjuangan bapak mendapat imbalan yang sesuai baik di sini maupun di sana kelak. Satu kata kasi saja wejangan pak agar saya bisa terinspirasi….” thanks before”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s