Kali Kecil : Sebuah Tempat Brusli dan Tison Bertarung

5 orang bocah sedang memancing di kali.

“hei lihat ikan kecil itu! berikan kailnya biar aku yang memancingnya,” seru seorang anak kepada temannya.

“lihat! Disana juga ada ikan besar”, sontak teman yg satunya menyahut

“mana?”

“yang di sana itu, dekat tumpukan sampah” temannya menunjuk kearah tumpukan sampah yg tergenang di air.

“ah, yang itu mah bukan ikan, itu sandal jepit”  seraya tertawa.

Jika melihat sungai kecil (kali) itu pikiran saya terbang ke beberapa tahun lalu. Ketika saya seumuran anak-anak yang terlihat pada gambar di atas. Kali itu sungguh punya kenangan manis bagi saya dan teman-teman sewaktu kecil.

Sewaktu saya seumuran mereka, saya dan teman-teman sering sekali bermain di kali ini. Mulai dari berenang tanpa pakaian, memancing, memanah ikan, menjala ikan, maen siram-siraman air, enggo lari, hingga bertarung untuk menjadi raja – di sisi kiri kali terdapat sebuah tebing dengan ketinggian kurang lebih 4 meter, biasanya kami jadikan tempat untuk nge­-jump.

Saya punya kisah lucu ketika mengenang masa-masa menjadi ‘raja’ dinding tebing yang sering kami sebut dengan tampa balompa (tempat loncat).

Alkisah, saya dan teman-teman, setelah bosan seharian hanya berenang-renang dan melakukan rutinitas yang sama setiap hari di kali ini, kami akhirnya memutuskan untuk mencari alternative permainan baru yang lebih memacu adrenalin. Setelah berembuk dalam air dengan tubuh bugil-menggigil, kami akhirnya sepakat untuk membuat pertarungan menjadi raja di dinding tebing. permainan ini kemudian kami jadikan sebagai sebuah ‘agenda khusus’ jika berenang di kali ini. Aturan permainannya sederhana. Seorang petarung hanya perlu berdiri di dinding tebing dan menunggu penantangnya datang. Ketika berhadapan, langsung bertarung untuk mempertahankan posisi tetap di dinding tebing. Yang terhempas dari dinding tebing dan jatuh ke air dialah loser, sedangkan yang tetap berada di dinding tebing dialah sang ‘raja’. Tak ada hadiah apalagi uang tunai, tapi pengakuan secara de Facto, utuh dipersembahkan buat sang raja.

Teman saya,  sebut saja Tison. Laki-laki berbadan gempal dan berkulit hitam legam ini sangat kami segani dalam kelompok. Mungkin karna perawakannya yang sangar dan postur tubuhnya  yang lebih tinggi dari kami semua, sehingga tak ada yang berani macam-macam dengannya.

Tison, orang pertama pertama yang mengajukan diri untuk menjadi petarung. Ketika melihatnya maju, sontak kami semua menciutkan nyali. “siapa yg berani menantang muka hitam berkulit kerang ini,” sempal ku dalam hati.

“sudah kamu saja,” ujar seorang teman

“ah, saya kerempeng begini, yang lain sajalah,” lempar seorang teman

Lama Tison menunggu penantangnya yang tak kunjung muncul. Kami semua hanya saling bertatap dan mengangguk. Finally, pucuk dicinta ulam pun malu-malu.

Adalah Sindang, seorang teman saya bertubuh kerempeng yang ‘memaksakan’ diri untuk maju menjemput angin maut yang sedari tadi sudah ditiupkan sang taipan : TISON.

Dengan gelagat pemberani dan nada bicaranya yg terbata-bata, dia mencoba menantang Tison. Tison dengan wajah hitam nan seram, tak menganggap remeh walaupun yang menantang hanya seorang doyok dari timur. Wajah seram tetap ia pancarkan.

“ok. Aku naik ke tampa balompa, setelah itu kamu ikut” kata Tison dengan aksen timurnya.

“sip,” ucap Sindang singkat.

CUT>>>>>

Sebelum mereka bertanding. Hentikan membaca dan bayangkan siapakah yang akan menjadi pemenang dalam pertandingan tidak seimbang ini. Kerempeng versus beotot. Mula-mula bayangkanlah si Sindang adalah Brusli, dan Tison adalah Mike Tison si tinju besi. Jika mereka berhadapan dan saling menguji kemampuan, siapakah yang akan menang? Singkatnya lagi, siapakah yang akan bertahan paling tidak selama 10 menit?

CONTINUE>>>>>>

Dan Akhirnya mereka berdua telah berhadapan di dinding tebing. Tatapan mata tak hentinya mereka lancarkan sebelum bertarung. Daun-daun bergoyang seirama hembusan nafas mereka yang saling beradu. Suasana di sekitar serentak hening. Aura panas yang memacu adrenalin menguap di sekeliling kami.  Kalo dibolehkan lebay, hujan pun takut turun saat itu.. LOL

Kami yang penakut hanya bisa menonton dari bawah. Layaknya layar tancap yang sedang menayangkan adegan perkelahian Barry Prima, kami hanya bisa bertepuk tangan dan bersiul untuk memberi dukungan kepada dua petarung hebat ini.

Tiba-tiba..

Siulan kami serempak berhenti ketika Tison maju selangkah dan melayangkan pukulan dengan keras ke arah si Brusli. Mata kami sontak terperangah. “wah, ini sih bukan main-main lagi,” gumam kami dalam hati. Dengan lihainya sindang mengelak. Sreeeettttt…. Pukulan tadi melayang ditelan angin. Tison kaget, dia tak menyangka Sindang segesit itu. wajahnya merah padam, pertanda kalau emosinya sedang memuncak.

Kepalan tinju bertubi-tubi kali ini ia layangkan ke penjuru tubuh Sindang. Tapi selalu berhasil ditangkis dan dihindari si Brusli dengan lincah. Sindang yang merasa berhasil mengecoh tison, tersenyum tipis –  pertanda menyindir. Tison makin marah. Wajah hitamnya lebih gosong lagi ketika marah.

Ia kemudian, mengambil kuda-kuda bertahan. Sontak sindang mengernyitkan kening. Tak paham dengan apa yang dilakukan tison, sindang hanya menunggu. Tison pun demikian. Dia diam seribu bahasa dan menanti datangnya serangan. Sindang malah makin bingung. Karena menunggu terlalu Si Brusli akhirnya memutuskan untuk menyerang duluan. Dengan langkah tak sigap dia menendang.

Kepplakkkkkkk… bunyi kaki sindang melayang di tubuh Tison.  Anehnya, Tison tak bergerak sedikit pun. Dia diam, tendangan sindang tak merobohkannya. Sindang terperangah akan kuda-kuda Tison.

Sindang memutuskan mundur dan mengambil ancang-ancang agar tendangannya lebih ‘berasa’. Dengan sekali langkah dia mempraktekan gaya tendangan berputar ala Brusli.

Plakkkkkkkkkk…. Bunyi kaki sindang menempel di tubuh Tison. Sindang dengan posisi membelakangi Tison, mencoba melirik kemana arah tendangannya bersarang. Mata sindang terbelakak!

Kakinya ditangkis Tison dengan cara dipegang. Tanpa menunggu lama, dengan kuda-kuda Smack Down Tison mencoba membanting Si Brusli jatuh ke air. Eiiittssssss, bukan Sindang namanya kalo tak kehabisan akal. Dia mencoba melawan dominasi kuda-kuda tison dengan melilitkan kakinya ke badan tison.  Layaknya orang bersenggama, posisi ini mereka berdua sungguh aneh – Dalam tafsiran saya, mungkin inilah gaya bercinta dalam ajaran kamasutra yang disebut  women on tree . sindang memeluk tison dengan kuat, sementara Tison mati gaya karna terkunci oleh kuda-kuda nan aneh si Brusli. Adegan dan posisi yang aneh ini berlangsung kira-kira 2 menit lamanya. Mereka saling terkunci oleh kuda-kuda yang mereka buat.

Tiba-tiba…

Badan Tison oleng kesamping, sehingga mulut tebing mengagah di depannya. Nampaknya mereka akan terjatuh ke dalam air. Sindang yang menyadari hal ini dengan segera mencoba melepaskan lilitannya. Sindang berhasil.

Tapi Terlambat…

Badan Tison yang gempal sulit distabilkan oleh tubuh kerempeng si Brusli.  Dengan sangat cepat tubuh mereka berdua roboh. Lucunya, karena posisi yang aneh itu, tubuh mereka berdua tidak terhempas  jauh dari dinding tebing, sehingga mereka berdua harus menanggung akibat berselancar ria dengan badan telanjang di atas batu-batu tebing yang lumayan tajam.

Kami – sang penonton setia – sontak tertawa terbahak-bahak melihat adegan jatuhnya dua orang makhluk planet dengan posisi nan aneh.

Mereka berdua akhirnya, jatuh kedalam air. Lama sekali tubuh mereka nongol kepermukaan. Kami menyangka mereka tak sadarkan diri setelah terjatuh tadi. Tapi akhirnya wajah Tison yang hitam muncul setengah dipermukaan (baca: bayangkan buaya mengintai mangsa, seperti itulah kondisinya). Tak lama berselang sindang juga muncul.

Mereka berdua saling bertatapan. “bahaya, pertarungan ini mungkin akan berlanjut di dalam air” gumam ku dalam hati.

Ternyata, eh, ternyata..

Mereka malah tertawa terbahak-bahak, mengingat kejadian tadi. Kami pun ikut tertawa.

Wal hasil, tak ada pihak yang menang, tak ada pula pihak yang kalah. Semuanya senang, semuanya hepi. Tak ada dendam apalagi sumpah kesumat. Semuanya berteman, semuanya bersahabat.

Dan pertarungan ini terus berlanjut dikemudian hari.

***

Yah, itulah kisah saya ketika mengenang kali itu. many stories that have we made. Sayangnya, sekarang kali itu tak bisa dinikmati anak-anak yang lahir di abad ini. Era global warming dan pencemaran lingkungan yang saat ini menjadi trend, turut berimbas pada kali kecil itu.

Debit airnya semakin berkurang. Airnya tak lagi jernih. Sampah berserakan dimana-mana. Kotoran manusia apalagi.

Sungguh malang kali kecil ku ini. Kesadaran masyarakat akan pencemaran lingkungan khususnya manfaat air bersih harus dibangun saat ini juga.

Kali kecil ini hanyalah potret kecil dampak pengrusakan kita umat manusia. Tak bisa saya bayangkan, berapa juta kali kecil seperti ini di dunia, yang menyimpan banyak kenangan bagi anda, kotor bahkan kering terkena dampak pemanasan global.

Sudah saatnya kita berbenah. Mulai dari kali kecil, hingga ke sungai besar. Bersihkan itu semua, agar anak-cucu kita nanti masih dapat menikmati air bersih.

NB : setelah pertarungan sengit tadi, bokong Sindang dan Tison tergores merah terkena batu tebing yang tajam. Mereka berdua pun, diharuskan pergi ke tukang pijit untuk mereparasi bokong mereka yang sakit… hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s