Sebutir pasir

Tiupan angin membawa ku padamu. Di suatu tempat yang mungkin telah Tuhan janjikan.
Aku tak bisa mengelak jika itu yang Ia mau. Bahkan dengan perantara badai sekalipun.
Sampailah aku padamu. Sebuah janji yang tak ingkar Ia berikan. Tepat dimana aku mulai dahaga di tengah gurun, terombang-ambing dengan gejolak buta dan tanpa arah.
Penanda ku hanya angin jika aku tersesat dan tak bisa kembali padamu. Mungkin juga Ia – jika Ia berkenan. Aku tak begitu yakin.
Menjejali tiap asa bersama membuatku yakin. Si butir ini – aku – akan begitu damai. Entahlah darimana aku mengilmahi kata itu. “damai”. aku bahkan tak paham betul.
Tapi ketika bersama mu, aku hanya ingin terbang dan merasakan cinta yang amat akut. Berikut semua kepasrahanku yang telah kuserahkan. akulah milikmu.
Semua yang terjalin. Bukan pura-pura. Walau ku mulai keraguan, itu terkikis dashyatnya aura mu.
Aku merasakannya, walau aku hanya sebutir.

Pasir. Kumpulan dari ku. Kau menjadikanku bagai mereka. Kuat untuk memeluk. Kuat untuk menghujani tanah tandus dan mengisinya dengan mimpi-mimpi. Mimpi yang telah lama, dan tak berani di impikan sebutir pasir lainnya.
Namun kini, ketika perasaan dan asa itu bertautan. Aku takut kehilangan.
Kehilangan semua meta euphoria yang absurd. Kehilangan semua pelukan mimpi.
Kehilangan napas untuk berirama. Kehilangan semua yang kau dan aku mau.
Semuanya.
Tapi sekali lagi. Aku yakin IA berpihak padaku. IA tahu yang kau dan aku lalukan.
Semua hanya untuk yang terbaik, walau melawan kehendak hati.

9 responses to “Sebutir pasir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s