Sepatu, Ayahku


Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon pagi itu, kamis 13 januari 2011 tampak lengang dari biasanya. Beberapa mahasiswa, berjalan berdampingan memasuki gerbang kampus yang berjuluk hijau ini. Sesosok orang nampak di antara mahasiswa yang berjalan. Tubuhnya mungil. Dibalut kemeja coklat berlengan pendek, ia tampak bersahaja. kulitnya hitam legam, tingginya ditaksir sekitar 160 cm lebih. jika dilihat dengan seksama, ia nampak kontras dengan yang lainnya : sepatu yang tidak melekat pada kakinya.

Dialah Samsudin Suneth, Mahasiswa semester III pada Fakultas Syariah IAIN Ambon. Semenjak sekolah dasar, Etam, biasa ia disapa, tak pernah merasakan alas kaki. Maklum, kaki kiri dan kanannya, terlahir dalam kondisi cacat.

“beta pernah coba pake sandal waktu SMP, tapi kurang nyaman,” tutur Etam yang pernah bersekolah di SD Inpres II Luhu, Ambon ini.

Walau tak memakai alas kaki saat bersekolah Etam tidak pernah minder, apalagi putus asa. Dia sering diejek berulang kali oleh teman-temannya di sekolah, tapi tak pernah ia gubris. Ia hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai bahan candaan.

“jang skolah kalo seng pake sepatu” tutur Etam, menirukan teman yang mengejeknya.

Etam tak pernah dipaksa menggunakan alas kaki oleh gurunya. Walaupun nampak tak sopan atau agak ganjil dari biasanya, gurunya memaklumi kondisinya yang cacat.

“guru-guru semua tau beta pung kondisi, dong seng memaksakan asalkan beta benar-benar serius sekolah” ungkap Etam

Pria yang mandiri

Sejak bersekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Seram Bagian Barat, Etam tak pernah meminta uang dari orang tuanya. Praktis, semua biaya hidup dan sekolah ditanggung sendiri olehnya. Etam bekerja sebagai kernet mobil guna menunjang kebutuhan hidupnya. Uang yang didapat dari gajinya sebagai kernet kadang pas-pasan bahkan tak cukup untuk kebutuhan hidup atau biaya sekolahnya.

“setiap hari beta cuma dapat 20-25 ribu atau kurang dari itu. kadang hanya cukup buat makan,” ungkap Etam, mengenang masa-masa sulitnya bersekolah.

Pekerjaan ini terus dilakoninya hingga ia lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah, Luhu.

Lulus dari SMA, Etam berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Cita-cita luhur ini ternyata tak berjalan mulus. Orang tua Etam tidak menginginkan anak pertama dari dua bersaudara ini, harus kuliah tanpa mengenakan sepatu.

“mereka pikir, orang kuliah itu harus rapi dan bersepatu. Tapi saya berhasil meyakinkan mereka, bahwa sepatu tak menjamin saya pintar di bangku kuliah” kata Etam.

Etam akhirnya mendapat restu orang tua untuk kuliah, namun lagi-lagi biaya pendidikan menjadi aral yang melintang di tengah semangatnya yang menggebu-gebu.

Ibarat pepatah ada kemauan ada jalan, Etam akhirnya mendapat jawaban atas doa-doanya. Adalah M. Yamin Rumra, dosen sekaligus Pembantu Rektor II IAIN Ambon yang membantu Etam meringankan biayanya selama kuliah di IAIN.

Etam patut bersyukur, selama berkuliah hingga tahun kedua di IAIN, Etam tak menanggung apa-apa, karena biaya hidupnya disokong oleh kakaknya,

“tuhan menjawab beta pung doa. Beta selalu dikelilingi oleh orang-orang baik selama hidup” kata Etam.

Sosok di Balik Etam

Behind every great man there stands a great woman. Pepatah ini berlaku bagi hidup Etam. Sosoknya yang semangat dan bersahaja ternyata bertolak pada semangat orang-orang yang mendukungnya.

Selain Dosennya, Yamin Rumra, dan Kakaknya. Sitna Pelupessy, 19 tahun, merupakan sosok penyemangat Etam. Gadis berparas ayu ini, telah menjadi sahabat Etam sejak kuliah. ia merupakan “saksi kunci”  pahit-manis hidup yang dijalani Etam. Tempat Etam berkeluh kesah tentang hidupnya, juga tempat Etam berbagi manisnya mimpi.

“mimpi terbesar Etam hanyalah membahagiakan kedua orangnya tuanya. Saya pun takjub akan hal itu” tutur dara manis yang berasal dari Desa Siri-Sori, Kabupaten Maluku Tengah ini.

Chaca, begitu Sitna biasa disapa, menceritakan kembali bagaimana awal perjumpaannya dengan Etam.

“pertama jumpa beta seng merasa kasihan. Beta tau Etam itu orangnya sangat bersemangat. Seng pernah minder. Dia sangat percaya diri. Beta deng teman-teman yang sekelas dengan dia sangat segan. Dia lumayan cerdas di ruangan”

***

Dibalik sosok Etam yang powerfull dan bersahaja, ternyata tersimpan kisah pilu yang dipendamnya selama bertahun-tahun.

Ihwal cerita, sebelum dilahirkan kedunia, Etam telah ditinggal sang ayah. Ayahnya dengan tega meninggalkan ibu dan anak yang masih dalam kandungan, demi sesuatu hal, yang hingga kini belum diketahui Etam. Pernah sekali, Etam menanyakan alasan dan keberadaaan ayahnya kepada sang ibu. Tapi ibunya selalu berusaha mengelak dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“saya takut melukai hati ibu, saya takut ibu sakit. Hanya ia yang saya miliki. Saya tak kenal ayah. Saya bahkan tak tau namanya. Tapi saya sudah memaafkannya.” tutur Etam sambil mereka-reka rupa sang ayah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s