Writer’s Block dan Nostalgia Pena Kampus

Saya rehat. Istirahat setahun dari segala aktivitas yang memusingkan kepala rupanya membuat saya bak orang tersesat diladang sendiri. Saya kesulitan menjadi diri sendiri. Melakukan apa saja yang dulu senang atau biasa saya lakukan.

Menulis. Dulunya hal ini merupakan aktivitas rutin saya ketika masih menjadi mahasiswa seumuran jagung di kampus. Saya ceritakan kembali. Dulu ketika baru menginjak semester 2, saya dan beberapa teman diajak oleh senior/kakak tingkat kami untuk menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah wadah. Kami awali dengan membuat sebuah mading. Pada bulan pertama, mading ini cukup meraih simpati khalayak kampus – yang dominan bacaannya adalah berita politik. Walaupun hanya mading, kontennya tidak kami isi dengan hal yang berbau hiburan semata. Berita aktual serta laporan spot news juga kami isi dalam mading itu. mungkin karena latarbelakang pendidikan (baca;jurusan) kami sebagai calon jurnalis, makanya kami harus menempatkan berita dalam porsi yang besar tetapi tetap berasaskan fakta dan data yang akurat.

pena kampus


Mading berjalan lancar namun kami tak puas. Tak puas karena segmentasi pembaca mading hanya berkutat pada khalayak pembaca yang antusias untuk berdiri berlama-lama dan mematung seraya membaca tulisan di dinding. Akhirnya suatu ketika kami berkumpul pada suatu ruangan yang disepakati dan berdiskusi tentang perlunya medium baru untuk menyampaikan gagasan.
Tabloid. format itu tampaknya keren bagi kami. Tabloid mungkin bukan barang unik atau baru bagi universitas lain yang telah berdiri berabad-abad. Tapi medium ini sungguh baru bagi kami yang baru dua tahun (saat itu) beralih status dari Sekolah Tinggii Ke Institut.
Kami akhirnya sepakat dan memberi nama – atas saran seorang senior dengan nama : PENA KAMPUS. Tak ada alasan rinci tentang nama ini. Toh nama hanya huruf bermakna. Hal ihwal selanjutnya setelah nama adalah motto. Ini menjadi pergumulan dan diskusi panjang lebar diantara kami. Begitu banyak yang tertampung, tapi semua gugur dengan sendirinya karena tak memenuhi syarat serta out of topic.
“membongkar problematika, mengedepankan realitas” akhirnya terpilih sebagai motto yang nantinya akan bersanding dibawah nama Tabloid kami. Selanjutnya kami membahas tentang Rubrik dan ihwal manajemen keredaksian, serperti personalia dan struktur organisasi beserta tetek bengeknya yang paling penting : dana.

Detik-detik menjelang deadline


Kami beruntung. Kami tak harus sibuk-sibuk mengurusi masalah dana karena segalanya telah ditanggulangi oleh Dekan kami. Kami pun diberi sebuah ruangan khusus berukuran 4×6 meter yang kedepannya kami jadikan sebagai ruang redaksi.

***
Tabloid Pena Kampus resmi terbit pada tanggal 24 februari 2008, bertepatan dengan acara wisuda diploma dan sarjana. Menurut pendapat Pemimpin redaksi kami “ koran atau apapun media yang baru memulai karirnya harus terbit bersamaan dengan momen, ini menguntungkan dari sisi distribusi karena minat beli khalayak pembaca sangat kurang pada hari-hari biasa”. Saya pikir ada benarnya juga. Sekitar 200 eksemplar telah kami cetak yang pereksemplar kami hargai 5 ribu rupiah ludes diserbu pembeli yang dominan ibu-ibu.
Setelah hari bersejarah itu. tabloid kamii terbit rutin setiap 2 minggu, kadang sebulan jika terbentur aktifitas kuliah dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya.
Sayangnya tabloid ini tak berumur panjang karena alasan dana. Hanya enam edisi Tabloid ini dibiayai oleh pihak fakultas. Selanjutnya kami tak bisa beroperasi lagi. Kini ruang redaksi yang dulunya kami tempati telah disulap kembali menjadi ruang kuliah.

***
Sebenarnya masih banyak aktivitas menulis lainnya yang ingin saya ceritakan pada kesempatan ini, tapi saya pikir tak akan ada serunya jika menceritakan semuanya dalam satu kisah utuh. Toh, semuanya hanya biasa-biasa saja dan tak ada yang bisa dibanggakan. Kecuali untuk ajang share dan bernostalgia dengan kejayaan masa lalu.
Mohon bantu saya dengan doa agar saya bisa menulis lagi seperti biasanya. writesr’s block ini sungguh menyiksa.
Keep fight dan tetap menulis.
Salam Pena!

3 responses to “Writer’s Block dan Nostalgia Pena Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s