Membumikan Gerakan Sosial Media di Negeri Raja-Raja.

Gerakan sosial media yang dibangun secara online di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia telah menjadi fenomena baru. Simak saja, gerakan sosial Koin untuk Prita dan Koin untuk perubahan yang telah menuai kesuksesan. Lantas, bagaimana dengan gerakan sosial melalui jejaring sosial media di Maluku, khususnya Ambon?

peserta kelas perdana Akademi Berbagi Ambon berfoto bersama usai kegiatan 25 maret

“apa itu sosial media dan mengapa kita harus peduli?”
Kalimat ini dilontarkan M. Burhanudin Borut ketika menjadi fasilitator pada kelas perdana Akademi Berbagi Ambon (Akber Ambon) yang digelar, 25 Maret 2011. Borut kemudian melanjutkan, bahwa sosial media merupakan aktivitas online nomor satu di dunia menggeser akses konten porno dan layanan surat elektornik pribadi atau personal email.
“setidaknya ada 10 alasan mengapa kita harus peduli pada sosial media sekarang ini. Salah satu alasan yang cukup signifikan, bahwa 2/3 populasi pengguna internet di dunia mengunjungi sosial media,” jelas Borut yang juga aktivis Ambon Bergerak ini.
Borut kemudian melanjutkan dengan sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana dengan pengguna sosial media di Ambon?
“Hampir 25 sampai 29 persen penduduk kota Ambon menggunakan Facebook. Sementara untuk pengguna Twitter , kota Ambon meraup 0,3 persen dari pengguna aktif di Indonesia. Ini jika asumsi 0,3 persen pengguna Facebook dan Twitter di Ternate sama dengan di Ambon,” terang Borut, mengutip sumber saling-silang.com yang kerap melakukan penelitian tentang pengguna internet aktif di Indonesia.
Menurut Borut, Perkembangan teknologi yang makin tinggi dan makin murah mendorong kecenderungan manusia berkomunikasi dan menciptakan identitas-identitas tertentu lewat media tekhnologi online. Lebih dari itu, sosial media juga memberi kemudahan menjangkau lebih banyak orang dengan waktu yang lebih singkat & transparansi.
“dengan pengguna lebih dari 100 ribu untuk akun aktif facebook dan 17 ribu untuk pengguna twitter, ada potensi yang sangat besar untuk memanfaatkan sosial media sebagai sarana membangun gerakan dan menjangkau lebih banyak orang secara efektif di ambon. Dan ini masih bisa bertambah,” ungkapnya.
Dari paper yang dipresentasikan Borut terlihat beragam penggunaan sosial media di Ambon, seperti sosial media untuk pergerakan, sosial media sebagai tempat berkumpul komunitas tertentu dan sosial media sebagai sarana pemasaran produk lokal.
“sisanya, ya kita-kita ini. Penggunna alay, ababil dan pencari teman. Sudah saatnya kita menjadikan sosial media sebagai sebuah base untuk menghimpun ide dan gagasan dalam menanggapi masalah-masalah sosial,”
Menanggapi hal ini, Suhfi Majid, Ketua Komisi D DPRD Maluku, yang turut hadir dalam kegiatan ini menjelaskan, trend perkembangan teknologi informasi memang membawa pengaruh besar terhadap model komunikasi masyarakat. Pemanfaatan jejaring sosial media menjadi tren baru di belahan dunia termasuk di Ambon.
“internet telah menghasilkan revolusi komunikasi masyarakat. dan jejaring media sosial memberi sumbangsih terhadap revolusi komunikasi,” ujar Majid, yang juga seorang blogger aktif.

Blog dan Gerakan Sosial
Almascatie, penggagas Komunitas Blogger Maluku yang juga salah seorang fasilitator pada kelas Akber Ambon menjelaskan, fenomena-fenomena gerakan yang dibangun melalui sosial media selalu didominasi oleh blog. Dirinya menyebutkan setidaknya ada lima fase dimana gerakan sosial media diorganisir melalui blog.
“Fase pertama, dimulai pada 2006. Gerakan sosial media melalui blog ini digelar untuk mengkampanyekan penghentian pungli oleh dokter. Kampanye ini dibuat masih berupa himbauan dari tulisan pribadi dengan tulisan dan sedikit gambar, di bawah slogan ‘Dokter Jangan Pungli’. Fase kedua masih sama walau dengan isu yang berbeda. Nah, setelah fase ketiga, gerakan sosial ini berbuah menjadi sebuah gerakan nyata, meski diorganisir melalui dunia maya. Contohnya kampanye koin untuk kasus prita dan koin untuk perubahan, “ jelasnya.
Menurut Almascatie, blog sebagai sosial media, memungkinkan terjadinya interaksi antara pembaca dan pembuat blog. sehingga Informasi yang disampaikan akan langsung direspon, ditambahi, dikoreksi dan diperkaya oleh orang lain.
“tapi pengaruh buruknya juga banyak. Penyalahgunaan fungsi dan penyebab banyaknya sampah digital merupakan pengaruh buruk yang cukup signifikan hingga kini”, katanya.
Dalam konteks lokal, Almascatie menilai, pengunaan blog sebagai gerakan sosial yang berdampak positif bagi Ambon masih sangat minim. Hal ini dibuktikan dengan hasil pencarian melalui search engine google dengan menggunakan keyword ‘ambon’
“kalau mengetik kata kunci ‘ambon’ di mesin pencari google kita akan menemukan sesuatu yang aneh disana. Kerusuhan Ambon sudah terjadi sekitar 12 tahun lalu, tapi di internet masih menyarankan pencarian tentang Kerusuhan Ambon,” sesalnya.
Dirinya kemudian mengusulkan kepada masyarakat Maluku khususnya Ambon agar mengisi konten internet mereka dengan gambar atau tulisan yang berkaitan dengan keindahan ambon.
“Dengan banyaknya konten lokal tentang Ambon/Maluku di Internet diharapkan mampu mendorong hal-hal yang berbau kerusuhan / tragedi berdarah itu bisa terdorong sampai ke halaman akhir dari Google atau mesin pencari lain” ungkapnya.


Dari Maya ke Dunia Nyata

Walau bekerja, menggorganisasikan pikiran dan pendapat serta pengalaman melalui sosial media secara online, esensi sebuah gerakan tetaplah sebuah tindakan nyata. Hal ini dibenarkan oleh Burhanudian Borut,
“integritas sebuah gerakan, bukan hanya di sosial media. Tapi yang terutama adalah dalam kehidupan nyata. jadi, selalu coba untuk rekonek dengan sesama pengguna sosial media di dunia nyata. Contohnya seperti bikin kopi darat (kopdar)”. Ungkapnya.
Senada dengan Borut, Suhfi Majid menerangkan, pada saatnya komunitas-komunitas yang berbasis di dunia maya ini, perlu memperluas ruang gerak pada aksi nyata dan ide-ide yang lebih besar.
“ide memperkenalkan Maluku dengan potensi pariwisatanya, aman untuk investasi dan ide besar lainnya, sangat mungkin dapat dipromosikan lewat jejaring sosial, karena jangkaunnya tanpa batas”.
Majid juga mengharapkan agar pemerintah daerah mengapresiasi gerakan-gerakan melalui sosial media yang terjadi di Maluku.
“Selayaknya pemerintah daerah memberikan apreasiasi terhadap mereka. Bahkan bisa dijadikan sebagai mitra mempromosikan Maluku,” harapnya.

8 responses to “Membumikan Gerakan Sosial Media di Negeri Raja-Raja.

  1. Pingback: Membumikan Gerakan Sosial Media di negeri Raja-Raja·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s