de Licht

Kartini

oleh : Rifky Husain

Perempuan adalah mazhab kosong yang dapat ditulis siapa saja.

Apa saja yang dituliskan dalamnya, jadilah ia panutan.

Kepada siapa ditulis untuknya, semua akan berpaham.

Kartini muda adalah mazhab kosong tentang perjuangan kerasnya hidup berkebebasan.

Kartini muda adalah simbol hidup priayi jawa yang siap dimadu tanpa pernah menolak.

Tapi, Kartini sesungguhnya adalah hati yang berontak yang tak dapat dipadam seluruh.

Getarannya mendarah daging dalam diam dan anggukan kepala.

Kartini dewasa tak lagi bisa diam.

Diam dulu telah berubah menjadi gumam yang diteriaki melalui surat-suratnya.

Kertas-kertas yang terbang dari Jepara ke belanda.

yang menjadi gugatan-gugatan kartini tentang bangsa.

Tentang kaumnya yang diam dalam pranata perbudakan dengan kemasan budaya serta mulianya tuntunan agama.

Tapi teriakan kartini tidaklah panjang.

Setahun menjadi biduan keempat dari bupati rembang sudahlah cukup.

Kartini terbujur kaku, empat hari setelah anak si mata wayangnya melihat dunia.

Cita citanya pada perempuan jawa yang pendidikan diputuskan Tuhan ditengah jalan.

1911,

Door Duisternis tot Licht lahir ke dunia setelah 7 tahun Kartini berpulang. Buah dari kertas-kertas gugatan yang dikirim kepada sahabatnya di tanah Eropa.

Kartini mati muda, Tapi Kartini sesungguhnya hidup dalam buku ini.

Bermuka-muka dengan mereka yang menyibak belantara pemikirannya.

Yang mencemooh, yang mengiba sampai yang meneriakinya jalang.

Kata adalah senjata kartini yang meraih simpati dunia. Ia adalah bola mata dunia yang melihat bangsa ini demikian kerdilnya untuk para perempuan.

Habis Gelap Terbitlah Terang, terjemahan Armin Pane jadi prasasti.

Prasasti abadi buah pemikiran Kartini yang menyayat hati para perempuan.

Membuka mata kompeni akan kecermelangan wanita pribumi yang bicara soal Multaluli, Van Eeden, Berta Von Suttner .

Yang fasih berbahasa Belanda sejak umur 12 tahun.

Kini,

Beratus tahun setelah terang itu terbit.

Kartini, hidup dalam gerakan emansipasi yang diteriaki para perempuan dijalan-jalan.

di gedung-gedung yang diduduki para munafik negara.

Kartini bersemayam dalam jiwa perempuan tangguh yang menganggap laki-laki bukanlah Tuhan superior atas jalan hidup mereka.

Ambon, 16 April 2013

2 responses to “de Licht

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s