La Daru, Eksodus dan Hari ini di Kota Bau-Bau

“Mo beli kacang ka seng?” Sapa seorang pria paruh baya di belakang saya.
Tanyanya memecah keheningan saya yg sedari tadi fokus menjepret gadis belia dipojokan dekat tangga kapal Feri.

Saya balik dan menatapnya. Fokus saya hilang pada gadis itu dan tertuju pada kacang yang digendongnya menggunakan keranjang.

“Satu bungkus harganya berapa kakek?”

“mas ambe saja tiga 5rb”

Fokus saya kembali hilang. Kali ini dari kacang ke dialek kakek ini.

“Tete dari Ambon?”
“Iya. mas dari Ambon lai ka? Org jawa ka?”

Saya tertawa. ini bukan kali pertama saya disapa mas dan dikira orang Jawa.

“Beta dari Ambon. baru tiba satu minggu yang lalu di bau-bau”

Di atas KMP. Inerie yang membawa kami melintas dari pelabuhan feri kota Bau-Bau menuju Dermaga Feri Wamingkoli,
perkenalan pun berlanjut. Saya membeli kacang dan mengajaknya duduk di kursi dekat tangga menuju lantai 2 Feri.
Kakek ini memperkenalkan dirinya. Namanya, La Daru dan ia lupa tanggal lahirnya. Saya mencoba memastikan tahunnya dengan menanyakan momentum apa yang dia ingat ketika kecil. Yang dia tahu, ketika peralihan Orde Lama ke Orde Baru, Ia sudah remaja dan senang dengan radio.
Saya menerka, umurnya mungkin sekitar 65-68 tahun.
Dari soal Radio, La Daru bercerita tentang masa mudanya yang penuh lika-liku dan cinta-cinta monyet. La Daru menikah di usia yang sangat muda. Dari pernikahannya La Daru memiliki 8 anak dan 30 cucu.
La Daru adalah pria Asli Wara, sebuah Desa di Kabupaten Muna, yang terkenal karena jiwa merantau.
La Daru muda juga perantau. Sejak tahun 1975, La Daru muda memboyong istri dan anaknya ke Ambon dengan menjual harta warisan yang tersisa.
Di kota Ambon, La Daru kemudian bekerja di pelabuhan sebagai buruh angkut dan tinggal di daerah silale dekat bantaran kali.

“Beta pindah dari Silale karna dapa gusur par kasi bersih kali. Lalu, beta tinggal di Tantui sampe kerusuhan. kerusuhan katong lari mengungsi ka sini, ” ungkapnya

24 tahun La Daru hidup di Ambon dan kemudian jadi pengungsi di pulau buton bersama 174 ribu pengungsi lainnya. Gelombang eksodus terbesar pasca Orde baru akibat konflik SARA di kota Ambon tahun 1999.

 

 

KM. Inerie yang membawa saya dan La Daru masih berlayar menuju dermaga Wamingkoli.
Sayup-sayup suara Doddie Latuharhari terdengar dari ruang penumpang di lantai 2. saat itu sudah sore. Angin sore mulai bertiup ke darat ke pantai. Dingin seperti lagu Doddie..

Saya memperhatikan seksama wajah La Daru saat berbicara. juga dengan dandanannya yg nyentrik : topi merah ala Glen Fredly dan Baju Kuning. Tabrak warna. Tapi sebentar. Aha! Ada logo partai beringin di baju itu.
Saya mulai bercakap.

“Tete baju bagus e. Beli di mana ka?”
“Haha. Ini beta pu ana maeng politik. dia bawa dari Pasar Wajo. Knapa ka? Bagus ka?”

Saya tertawa sambil mengangkat jempol.
Saya baru ingat. beberapa hari lalu, saya ada di Pasar Wajo, kota Kabupaten Buton. Kota itu sedang semarak menyambut pagelaran Festival Tua Buton 2016. Seperti pagelaran acara budaya lain di Indonesia yang bertepatan dengan momentum politik, wajah-wajah dengan mode surface blur akan terpampang vulgar di pojok-pojok kota lengkap dengan warna warni partai dan jargon “selamat” yang penuh basa basi.
Tahun depan adalah tahun politik bagi warga Kabupaten Buton.

“Tete tahu suharto ka? Lebih enak Suharto ka Jokowi?” saya iseng bertanya

“Suharto dolo aman. baras banya. bee sakarang susah. Bajual kacang sa setenga mati.”

Saya tak ingin mendebat pendapatnya tentang suharto. saya lanjut bertanya.

“Satu hari tete bisa dapat berapa ribu dari jual kacang ini?”

“Kadang bisa 200 ribu. kadang tar sampe. modal seng bale lai.” ungkapnya seraya tertawa

“Ibu beli kacang dolo,” La Daru memutus percakapan kami. karena seorang ibu berjalan turun dari tangga.
Ibu itu menggeleng.

“Beta kira ada gigi par makang kacang padahal su tar ada lai,”

Canda La Daru, memecah tawa ABK kapal yang dari tadi menguping percakapan kami. Saya ikut tertawa.

Di usianya yang kian senja, La Daru masih bertahan hidup dengan menjual kacang. Walau sesekali berkeluh kesah, La Daru selalu mengakhirinya dengan tertawa. Mungkin begini rupa rakyat kecil di negeri ini; menertawakan kesusahan itu jadi lagu wajib bila ingin berbangsa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s