Filmography

Munysera

Director : Ali Bayanudin Kilbaren

Producer & Scriptwriter : Rifky Husain

Director of Photography : Fachrun Burhan

2017 | Fiction | 27 minute

Bahasa Indonesia | CGV Cinemas | BaileoDOC

Subtitle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis

Semalam sebelum mendapatkan tugas mengabarkan berita duka, John (46), seorang Musera, terjatuh dan tidak dapat berlari. John meminta anaknya, Yance (24), untuk menggantikan dirinya berlari sejauh 45 km ke desa tetangga untuk mengabarkan berita duka kepada cucu Opa Jossy, Alex (12), di Desa Iblatmumta. Yance enggan menggantikan ayahnya menjadi petugas adat pemberi kabar kematian, tetapi hutang budi terhadap Opa Jossy membuat Yance memutuskan mengambil peran itu dan memberi kabar pada Alex. Perjalanan Yance memberi kabar duka dan bertemu orang-orang di perjalanannnya membuat Yance tersadar akan peran penting seorang Musera di tengah kondisi masyarakat yang miskin dan tanpa akses transportasi.

 

A night before doing his job as an obituary announcer, John (46), a Musera, had a falling accident and could not run. He asks his son, Yance (24), to take his place and run as far as 45 km to give the sad news to the Grandpa Josssy’s grandchildren, Alex (12), in Iblatmumta Village. Yance is reluctant to replace his father as an obituary announcer, but Grandpa Jossy had treated him very nicely and he wants to repay his kindness. Thus, he decides to take the job and deliver the sad news to Alex. His encounter with a lot of people on his journey makes him realize the importance of a Musera, especially in the middle of a poor society with no access to transportation

 

Awards & Festivals

Finalis CGV Movie Project 2017

Best Cinematography CGV Movie Project 2017

Official Selection Ganesha Film Festival 2018

 

—————————————————————————————————————————

 

Pendayung Terakhir (The Last Boutmen)

Director : Ali Bayanudin Kilbaren

Producer : Rifky Husain

Director of Photography : Husni M Tokomadoran

2017 | Documentary | 17 minute

Bahasa Indonesia | BaileoDOC | Obscura Alhazen | Jurusan Jurnalistik IAIN Ambon

Subtitle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis

Sejak tahun 1950, Transportasi perahu telah melayari teluk Ambon. Membawa penumpang dari Desa Galala ke Desa Poka dan menghubungkan dua jazirah penting di pulau Ambon : Leihitu dan Leitimur. Beberapa foto hasil karya Woodbury and Page sekitar tahun 1870, bahkan telah menggambarkan pantai kota ambon sangat ramai dengan perahu-perahu dan transaksi sagu mentah maupun kayu bakar.

Pada April 2016, Jokowi meresmikan Mega Proyek Jembatan Merah Putih. Jembatan terpanjang di Indonesia Timur ini menguras 700 Milyar lebih APBN. Di bawah Jembatan megah ini, Arif, 56 Tahun saban hari mendayung perahu. Bersama 200 kepala keluarga lainnya, Arif menggantungkan pendapatannya pada pekerjaan mendayung perahu.

Namun, sejak jembatan resmi dibuka untuk umum, pendapatan Arif menurun drastis. Begitu juga pendayung perahu lainnya. Banyak dari para pendayung ini memilih mencari pekerjaan lain karena mendayung tidak lagi menjamin hidup mereka. Arif memilih berkebun dan sembari tetap mendayung perahu. Baginya mendayung perahu berarti juga melestarikan budaya dan kejayaan maritim di Indonesia yang telah ada sejak dulu.

Perlahan, jumlah para pendayung perahu terus merosot. Yang tersisa kini adalah para pendayung terakhir yang mencoba mempertahankan salah satu moda transportasi tertua di Pulau Ambon.

Film Dokumenter mencoba memotret kisah minor tentang kemajuan semu yang diperjuangkan pemerintah namun menyengsarakan masyarakat kecil.

 

Since 1950, boat transportation has been navigating Ambon’s bay and carrying passengers from Galala Village to Poka Village, as well as connecting two important islands on Ambon, Leihitu and Leitimur. Some documentations of Woodbury and Page around 1870 even described the crowded beach of Ambon, loaded with boats, raw sago and firewood transactions.

In April 2016, Jokowi inaugurated the Mega Project of Jembatan Merah Putih. This longest bridge in eastern Indonesia has drains more than 700 billion of funds of state budget revenues. Under this magnificent bridge, Arif (56 years old) with 200 other family heads rowed boats. Arif hung his income on rowing boats. However, since the bridge was officially opened to the public, his income dropped dramatically, so do the other boatman.

Many of these boatmen choose another job because rowing no longer guarantees to make their ends meet. Arif chose gardening while still rowing the boat. For him, being a boatman also means to preserving the culture and the glory of maritime in Indonesia that has existed since long time ago.

Slowly, the number of boatmen continues to decline. All that remains is the last boatmen who tried to keep one of the oldest modes of transportation on Ambon Island. This documentary tries to portray a minor story about the pseudo-advancement that the government is making but in the end makes the small community miserable.

 

 

Awards & Festivals

  • Best Student Short Documentary, UCIFEST-UMN 8 Animation & Film Festival, 2017
  • Best Documentary Bandung Independent Film Festival (BIFF) 2017

 

—————————————————————————————————————————

 

Hana (The Key)

Director : Rifky Husain

Director of Photography : Fachrun Burhan

2016 | Short Fiction | 11 minute

Bahasa Indonesia | BaileoDOC | Kemendikbud Republik Indonesia

Subtitle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis

17 tahun setelah konflik Ambon, Hana, 27 tahun memutuskan untuk mengembalikan kunci rumah milik keluarga dominggus yang diwasiatkan
oleh ibunya. Kunci dan pertemuan Hana dengan Oma Ace membuka cerita di masa lalu.
17 Years after the Ambon Riot, Hana 27 Years Old, decided to return the house key that belongs to Dominggus family which was willed by her
late mother. The key and her meeting with Oma Ace opened the door to the past

 

 

—————————————————————————————————————————

 

Baju Bola (Soccer Jersey)

Director : Piet Manuputty

Director Of Photography :  Rifky Husain

2015 | Short Fiction | 8 Minute

Bahasa Indonesia | BetaFilms | Padi Padi Creative | Kemendikbud Republik Indonesia

Subtitle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis

Aksa (9 thn), seorang bocah yang memiliki mimpi menjadi pemain bola profesional kelak ketika ia besar nanti. Satu-satunya benda kesayangannya ialah kaos timnas Indonesia. Hingga satu waktu, kaos bola kesayangannya itu hilang. Aksa mencari kemana-mana, tapi  tak ditemukan. Akhirnya ia memilih cara tradisional untuk mengetahui keberadaan kaos bola itu.

 

Awards & Festivals

Anugerah Film Indonesia 2016, Nominasi Kategori Film Pendek Anak Terbaik

 

 

—————————————————————————————————————————

 

Provokator Damai (Peace Provocator)

Director : Rifky Husain, Ali Madi Salay

2013 | Documentary | 24 Minute

Bahasa Indonesia | Eagle Award Documentary Competition

Subtitle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis

Konflik yang mendera Maluku tahun 1999-2002 telah menelan korban ribuan jiwa, ribuan anak menjadi yatim dan jutaan orang mengungsi, serta jutaan lainnya hidup dalam trauma. Jacky Manuputty seorang pendeta dan Abidin Wakano sebagai seorang ulama adalah potret dari banyak tokoh di Maluku yang berjuang menginginkan Ambon damai. Tapi masih banyak warga hidup dalam trauma, serta pemisahan penduduk pasca konflik tahun 1999. Muhammad Yusuf Laga, masih menyimpan trauma akan konflik 1999 ingin memulihkan traumanya dengan mengikuti live-in (tinggal bersama) Begitu juga Heni Liklikwati yang bersuamikan seorang pendeta, hidup dalam trauma selama belasan tahun. Heni berkeinginan mengikuti live-in agar traumanya dipulihkan dan merubah persepsinya terhadap orang Islam.

Banyak kendala yang dihadapi warga Ambon pasca konflik tahun 1999-2002. Jacky dan Abidin dalam memperjuangkan perdamaian sering diteror, baik dari komunitas Islam maupun komunitas Kristen. Bukan saja itu program live-in yang dijalankan Jacky dan Abidin melalui Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) diabaikan pemerintah. Yusuf merasa trauma konflik dalam dirinya membatasi interaksinya dengan orang-orang yang beragama Kristen. begitupun dengan Heni yang masih takut ke masuk ke pemukiman muslim karena masih trauma ketika terjebak dalam sebuah insiden penembakan di akhir tahun 1999.

The Conflict in Moluccas Island, Indonesia, between two religions (Muslim and Christian) that happened in 1999-2002, has claimed thousands of lives, children orphaned, millions of people fled and millions more live in trauma.

After conflict, the living settlement of Muslim and Christian communities segregated, which is in contrast with the fact that two the two communities have lived in harmony for centuries.

Muhammad Yusuf Laga is still experiencing the trauma of the 1999 conflict, so does Heni Liklikwati, a pastor’s wife.

Both of them want to heal the trauma by joining a live-in program, aimed to change their perception towards both religion.

Live-in is a trauma healing program initiated by Jacky Manuputty (a pastor) and Abaidin Wakano (an Islamic Clerks), by living in different religion homes for several days.

They are the peace fighters who want to restore the living harmony of the past.

 

Awards & Festivals

  • Jury Price at Eagle Award Documentary Competition 2013
  • Official Selection at Focus Programme in ASIATICA Festival in Rome, Italy 2014
  • Official Selection Documentary at Aljazeera International Documentary Film Festival 10th, Doha Qatar, 2014

 

—————————————————————————————————————————

 

Merah Saga

Director : Rifky Husain

2014 | Documentary | 9 minute

Bahasa Indonesia | BaileoDOC Pictures

Subtittle : Bahasa Indonesia, English

 

Sinopsis
Ayu, 20 tahun, seorang Katolik yang taat beragama, berkeinginan menekuni minatnya di bidang seni teater. Saat konflik komunal berlangsung di Maluku tahun 1999, Ayu masih duduk di bangku TK. Trauma dan segregasi pemukiman tak membatasi Ayu beraktivitas dengan teman-teman Muslim dan Protestan. Ayu bergabung dengan kelompok teater Merah Saga yang didirikan dengan semangat kebersamaan tanpa memandang agama.

Ayu, 20 years old, is an obedient Catholic, who wants to pursue her interest in theatre. When the communal conflict happened in Maluku in 1999, Ayu was still in Kindergarten. Her trauma and the settlement segregation didn’t restrict her from the activity with her Moslem and Protestant friends. Ayu joins the Merah Saga theatre group, which was established with the spirit of togetherness withoutdiscriminating to any religions.

 

Awards & Festivals

Sayembara Ahmad Wahib 2014, Pemenang 3 Kategori Video Pendek

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s